Thursday, February 14, 2019

Timur Indonesia

Bagi saya mengujungi tempat-tempat baru selalu menarik. Baik pantai, gunung, kota ataupun desa, masing-masing punya daya tarik tersendiri. Sering kali saya berpergian bersama teman-teman yang juga memiliki hobi serupa. Namun sendiri pun tak mengurungkan niat saya untuk travelling. Mengutip sebuah quote yang mengatakan bahwa ‘like a booktravel is the thing you buy that makes you richer’. Saya sependapat. Travelling adalah investasi yang membuat saya kaya akan pengalaman dan wawasan. Seperti halnya Semeru yang mengajarkan saya semangat pantang menyerah, Wakatobi yang mengajarkan toleransi dan ketegaran, Selayar yang mengajarkan saya untuk berani dan berpikir positif, serta Rinjani yang mengajarkan saya empati dan bertahan hidup. Tidak hanya menikmati indahnya nusantara, tapi semua perjalanan pasti mengajarkan saya berteman dan berbaur. 
Satu persatu perjalanan-perjalan itu mungkin akan saya ceritakan di blog ini. Namun kali ini saya akan menulis singkat tentang perjalanan saya tahun 2014 bersama Kerehore, sebuah grup pejalan yang mengusung moto as far as we can go, as cheap as we can pay, as happy as we can be. Kala itu kami melintasi daratan Lesser Sunda, menyusur gunung juga pantai selama 2 minggu. Berawal di Bali. 
Peta Perjalanan Kerehore
Dari Bali kami menyebrang ke Kenawa, pulau tak berpenghuni yang berjarak 20 menit dari pelabuhan Pototano dengan kapal penduduk. Snorkeling di laut lepas, makan siang dengan ikan hasil bakaran sendiri dan berburu pemandangan malam di bawah langit Kenawa yang cerah dan penuh bintang, jauh dari polusi.
Lepas dari Kenawa, perjalanan kami lanjutkan menuju Dompu untuk pendakian gunung Tambora. Sejauh pendakian saya, Tambora adalah gunung yang paling menantang. Tidak begitu banyak pendakian ke gunung yang pernah meletus dasyat 200 tahun silam ini. Akibatnya, jalur pendakian tidak begitu jelas. Pacet, jelatang dan jalanan yang licin setelah hujan membuat kami harus ekstra hati-hati. Sukses dengan pendakian Tambora yang menantang kami pun melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo.
Di Labuan Bajo menginap di pos jaga TNI. Bermodalkan kenalan salah satu teman kami mendapatkan tempat bermalam seadanyan dengan cuma-cuma. Cukup membuat backpacker seperti kami berhemat. Perjalanan seperti itu membuat kami menghargai kebersamaan dan bahagia dengan hal-hal kecil yang sering kali terlupakan dengan kesibukan di kota. Kami menyetop abang-abang penjual ‘bakso tusuk’ di depan pos jaga. Kesepuluh pejalan ini kembali ke masa kanak-kanaknya bahagia berebutan memborong bakso langsung dari panci sang penjual.
Tujuan kami singgah di Labuan Bajo adalah Kepulauan Komodo. Setelah bernegosiasi dengan penduduk lokal salah satu pemilik kapal, lusa kami pun akan berlayar menemui salah satu golongan dinosaurus terakhir, Komodo. Living on boat selama dua hari ditemani hujan abu vulkanik dari gunung Sangiang yang meletus saat kami mencapai Pulau Komodo. Karoke lagu-lagu timur bersama awak kapal menemani kami menghabiskan malam.
Puas memanjakan mata dengan pemandangan Indah Gili Laba, Pink Beach, dan diving bersama penyu-penyu di Kanawa, kami kembali ke Bajo untuk melanjutkan perjalanan ke danau tiga warna di Ende. Perjalanan dengan pick-up yang di atapi seadanya, cukup melelahkan karena jalanan di beberapa desa tidak begitu bagus. Tanah longsor di desa Ruteng memberi kami kesempatan istirahat lebih lama. Bak reporter berita kami merekam kejadian dan mewawancarai supir agar waktu menunggu jalan kembali dibuka terasa cepat berlalu. Tengah malam setelah perjalanan panjang dari Bajo kami tiba di desa Moni. Kami menghadiahi diri dengan kasur nyaman di hostel milik bapak Silverster. Keluarganya ramah, mereka tinggal di belakang penginapannya. Berbincang dengan ibu dan anaknya membuat hangat kebersamaan kami di Moni. Saya selalu suka senyum anak timur yang lebar dan kontras dengan warna kulitnya, terasa begitu lepas dan tulus.
Kami kembali berjalan menuju danau tiga warna, Kelimutu. Harapan menjumpai sunrise saat jingga mentari berbaur dengan birunya langit, mendorong kami untuk berangkat pagi buta keesokan harinya. Di puncak kami disambut awan tebal. Bapak penjual kopi berkata bahwa masyarakat lokal percaya jika siulan akan mendatangkan angin yang mengusir awan. Kami bersiul bersama sambil menikmati kopi jualannya menunggu awan pergi. Hingga akhirnya hari pun cukup siang untuk menampakkan pemandangan indah danau tiga warna. Saat itu warnanya biru muda, hijau dan hitam. Warnanya berganti disaat-saat tertentu. Magis katanya, tapi menurut ahli, ini disebabkan kandungan-kandungan mineral di dasar danau. Perjalanan 2 minggu kami berakhir di sini. Kami kembali ke Ende untuk kemudian terbang ke kota masing-masing melanjutkan rutinitas. Namun kami pulang dengan banyak cerita baru tentang Indonesia yang menakjubkan.
Rekam jejak kealayan kami di Kepulauan Lesser Sunda

Kerehore: Eling, Irene, Uri, Ayu, Dewi, Endang, Iwan, Kasfika, Elri, dan Wafiqni

No comments:

Post a Comment