Thursday, February 7, 2019

Memeluk Mimpi di Kota Paris (Part 2)

Sebelumnya sudah saya tuliskan cerita tentang Le Bourget di hari pertama saya menginjak kota Paris. Ini lanjutannya.

***
Di hari kedua saya dan Ollie berniat keliling kota melihat atraksi-atraksi utama kota Paris, sementara Alus akan jalan-jalan dengan temannya sambil mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Belanda, mungkin juga berhenti di restoran untuk mencicipi baguette dan croissant, pastri khas Perancis. Saya dan Ollie sedang berpuasa. Hari ini sudah memasuki hari ketiga bulan Ramadhan. Puasa di Eropa adalah pengalaman pertama buat kami berdua terlebih saat ini adalah musim panas. Artinya, kami harus menahan lapar dan dahaga lebih lama dibandingkan kebiasaan di Indonesia. Sembilan belas jam sejak pukul 02.30 hingga 21.30. Hebatnya lagi, kami tidak terbangun dini hari ini untuk sahur. Mungkin lelah yang menumpuk sejak perjalanan dari Brussel membuat kami terlalu lelap tadi malam. 

Kami mengunjungi menara Eiffel, namun setibanya di sana kami tidak begitu antusias, mungkin karena begitu banyak orang di ikon wisata ini. Energi kami seolah terserap oleh sesak kerumunan manusia. Mungkin juga kami dehidrasi karena puasa tanpa sahur. Tenggakan minuman kaleng dingin di meja para pengunjung yang sedang beristirahat di teras kafe sekitaran Eiffel benar-benar menggoda iman.

Berada di pinggir sungai Seine, kami tidak ingin melewatkan kesempatan berkeliling kota Paris dengan cruising boat. Waktu itu tiket per orang dibandrol seharga €15 (sekitar Rp225.000). Cukup duduk manis di kapal dan tour guide akan menjelaskan sejarah setiap landmark yang kami lewati selama satu jam perjalanan, seperti Notre Dame Catedral, Pont Neuf dan Orsay Museum. Kami memilih duduk di bagian kapal paling atas yang terbuka tanpa atap agar lebih leluasa memandangi kota. Di dalam kapal ada bar kecil yang menjual sandwich dan minuman dingin. Kalau saja kami tidak berpuasa, tentu sangat nikmat meneguk sebotol coca-cola di tengah teriknya matahari Paris. 

Sebelum berangkat kami disarankan Tsania untuk mengunjungi museum Louvre, tempat tinggal lukisan tersohor Monalisa. Katanya, ada pintu masuk alternatif di sekitaran area perbelanjaan Rue de Rivoli dengan antrian yang lebih sedikit dibandingkan pintu masuk utama. Sayangnya kami tidak menemukan pintu yang dimaksud. Akhirnya kami hanya berkeliling di luar museum, beristirahat di sekitar ‘Louvre Pyramid’ sambil memperhatikan orang-orang di sekitar. Banyak pengunjung yang berfoto seolah-olah memegang puncak piramid, ada sekelompok wanita yang sepertinya sedang merayakan kebersamaan dengan berfoto bersama dengan calon mempelai wanitanya, ada pula penjual souvenir yang hilir mudik menjajakan gantungan kunci replika menara Eiffel. 

Selepas dari Louvre kami berniat menyambangi Arc de Triomph, monumen kemenangan Napoleon saat perang dunia ke-2. Di barat Louvre kami melihat sebuah monumen serupa namun lebih kecil dan ada beberapa patung kuda di atasnya. Ternyata memang ada dua monumen kemenangkan di kota Paris dan keduanya dimaksudkan untuk menyambut kemenangan sang penjelajah. Monumen yang baru saja kami lihat ternyata adalah Arc de Triomphe du Carousel yang memang kerap mengecoh wisatawan. Sedangkan Arc de Triompe de l’Etoile yang kami maksud berada di ujung jalan Champs Elysees dengan ukuran dua kali lebih dibandingkan monumen satunya. Bersyukur kami bisa menghampiri kedua gerbang megah yang dibangun tahun 1800-an ini. 

Tidak banyak yang spesial di hari ini. Seperti kebanyakan wisatawan asing lainnya, kami mengunjungi beberapa landmark utama kota Paris. Satu hal yang tidak biasa bagi saya dan Ollie adalah duduk lesehan di sebuah plaza terbuka sambil mengelilingi penampilan break-dance dari beberapa anak muda kota Paris. Tentu bukan tontonan gratis. Diakhir liak-liuk atraksi, mereka menyodorkan ember kecil untuk menampung recehan Euro dari para penonton.
Sajian break dance di kota Paris

Hampir satu jam kami habiskan di plaza itu namun senja pun belum terlihat tanda-tanda kedatangannya. Artinya waktu buka puasa masih lama. Kami pikir akan sangat membosankan jika kami pulang dan menunggu senja sambil bermalas-malasan di kamar Tsania. Toh kami sudah tidur panjang tadi malam. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu taman di pinggiran Paris yaitu Saint Germain en Laye. Dari pusat kota, taman ini bisa dicapai sekitar empat puluh menit perjalanan menggunakan RER dan dilanjutkan dengan bis. Seperti taman-taman di Paris pada umumnya, Saint Germain en Laye adalah pekarangan sebuah kastil dengan nama yang sama. Sekarang kastil ini difungsikan sebagai museum arkeologi. Posisi taman yang cukup tinggi membuat kami bisa menatap kota Paris dari ketinggian. Sore itu pun kami habiskan dengan bersantai sambil menikmati musik di hamparan rumput taman yang luas. 

***
Ini adalah hari terakhir kami di Paris. Alus akan kembali ke Delft siang ini. Sedang saya dan Ollie akan kembali ke Inggris besok pagi-pagi sekali. Karena bis dimulai pukul 05.00, maka kami memutuskan untuk bermalam di bandara Charles de Gaulle agar tidak terlambat esok hari. Pesawat Ollie akan take-off pukul 07.00 menuju Southampton. Sedangkan saya berangkat menuju London pukul 08.00. Di hari Minggu ini kami hanya bermalas-malasan bersama Tsania di kediamannya. Rencananya kami akan menghabiskan malam di kota Paris menikmati festival musik sambil menunggu kereta terakhir ke bandara. Setiap tahunnya, pada tanggal 21 Juni memang selalu digelar FĂȘte de la Musique yang secarah harfiah berarti festival musik. Tradisi ini dimulai di Paris tahun 1982 untuk merayakan summer solstice, titik balik matahari di musim panas. Sepanjang hari ini akan banyak gigs dengan beragam genre musik yang memenuhi sudut-sudut kota Paris. Dan semuanya bisa kita nikmati secara gratis. 

Hingga sore, hari ini hanya kami habiskan dengan ngobrol dan melihat foto-foto dari perjalanan kemarin. Sebelum benar-benar beranjak dari Rueil Malmaison, saya dan Ollie memasak perbekalan buka hari ini dan sahur esok hari. Sosis goreng, telor rebus dan pisang untuk sahur, sedang capcay udang, kentang, choco mouse dan aneka coklat untuk berbuka puasa. Rencananya kami ada berangkat menjelang berbuka puasa dan menunggu magrib sambil menikmati matahari senja di Luxemburg Jardin, taman seluas 25 ha yang merupakan pekarangan dari Luxemburg Palace. Setelahnya kami berharap disuguhi alunan lagu dari musisi kota Paris. 

Sekitar pukul 20.00 kami berangkat menuju taman Luxemburg. Langit masih sepeti jam empat sore di Jakarta, tapi kami tahu 1,5 jam lagi selesai sudah dahaga hari ini. Kami sampai di taman itu hampir jam 9 malam dan mendapati sebuah bangku taman di depan kolam air mancur menghadap ke barat dengan istananya di sebelah kanan. Perfect spot! Saya membayangkan kami menyantap hidangan buka puasa saat matahari terbenam dengan pemandangan yang mempesona mata.

Baru saja saya dan Ollie berniat menata makanan yang kami bawa di atas meja taman, kami mendengar suara peluit berulang-ulang. Orang-orang di sekitar kami pun beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Ternyata gerbang taman ini akan ditutup jam 9 malam. Buyar sudah angan kami untuk makan dengan latar belakang pemandangan indah taman ini. Dengan lunglai kami pun beranjak mencari tempat lain untuk berbuka puasa. Beruntung kami menemukan taman kecil di tengah kafe-kafe tak jauh dari Luxemburg Jardin. Taman ini terlalu ramai, namun kami sudah terlalu lelah untuk mencari perfect spot lainnya. 

Tak ayal saya dan Ollie jadi perhatian orang sekitar. Dua wanita berhijap dengan tas keril besar dipunggungnya menenteng kamera dan plastik besar berisi makanan. Dipinggir kolam mini kami membuka bekal buka puasa yang kami bawa. Bisa jadi kami dikira backpacker muslim yang kelaparan atau mungkin duet pemudi yang kabur dari rumah dan sekarang tidak punya tempat tinggal alias homeless. Entahlah. Tapi kami terlalu lapar untuk menghiraukan orang-orang sekitar. 

Setelah perut kami terisi kembali dan emosi tentang taman tadi mulai teredam, kami siap untuk agenda terakhir di kota ini. Fete de la Musique. Tak jauh dari taman kecil ini, tepat di pojokan jalan sekelompok musisi sedang mempersiapkan alat tempurnya. Kami pun memutuskan untuk menghabiskan malam di sini. Selain karena enggan berjalan lebih jauh, tempat ini dekat dengan stasiun RER sehingga akan memudahkan kami untuk menuju bandara tengah malam nanti. Beruntung band ini membawakan beberapa lagu yang bisa kami nyanyikan menambah keasyikan konser kecil ini. Anak-anak muda lokal pun berdiri mengeliling panggung mini dan ikut bernyanyi. Bahkan ikut melompat-lompat ketika merea membawakan lagu yang bersemangat. Saya dan Ollie dengan antusias menikmati musik dari atas pagar besi, duduk sambil mendokumentasikan beberapa scene dari panggung malam ini. Hampir dua jam kami menikmati atmosfer malam Paris dengan festival musiknya yang romantis. Dan Fete de la Musique inilah yang akhirnya menutup perjalanan kami di Paris dengan manis. 


No comments:

Post a Comment