Thursday, February 21, 2019

Dari atas Belgia

Di postingan sebelumnya sudah saya singgung rencana skydiving dalam perjalanan saya menjajal barat Eropa. Dan kali ini, saya akan bercerita tentang pengalaman saya terjun dari pesawat di langit Belgia, skydiving. Buat yang belum tau, simpelnya skydiving itu terjun bebas dari pesawat, dari ketinggian tertentu dan kemudian mendarat dengan menggunakan parasut. Serupa terjun payung, bedanya skydiving diawali dengan akrobat di udara sebelum parasut dibuka.

Hasrat ingin skydiving sebenernya sudah dipupuk sejak salah satu teman, Stepen, memamerkan videonya yang lebih dulu mencoba skydiving di Jepang. Sejak saat itu, skydiving is on my long to-do-list. Yang saya bilang to-do-list sebenarnya adalah daftar angan-angan yang ada di khayalan saya, tidak benar-benar saya tuliskan. Tapi intinya, satu lagi capaian saya tuntaskan di perjalanan ke Eropa kali ini.

Dari hasil penelusuran di Google, saya memilih Spa Skydiving yang ada di Belgia. Dengan membanding beberapa operator skydiving di Belanda, Prancis dan Belgia, Spa Skydiving lah yang paling memenuhi kriteria; websitenya bagus dengan dilengkapi versi bahasa Inggris, menawarkan fitur daftar secara online dan  available  di tanggal yang saya inginkan. Tapi sebenarnya alasan utamanya bukan itu. Spa Skydiving terpilih karena paling murah diantara operator-operator lainnya. Hehehe, mohon dimaklumi kondisi kantong mahasiswa rantau dengan beasiswa dari negara, prinsip ekonomis pastinya selalu diutamakan. Saya harus merogoh kocek £190 untuk paket skydiving dengan video. Bukan jumlah yang kecil tapi ini jauh lebih murah dibandingkan skydiving di UK untuk paket yang sama, yang dihargai £300. Hampir setengahnya kan?!

***

Hari pertama di Belgia, saya, Alus dan Ollie mengitari kota Brussel bak turis-turis lainnya. Kami mencari waffle, mencoba coklat dan satu hal yang paling berkesan, menemui sang legenda Manneken Pis. Dari brosur yang kami dapatkan di penginapan, patung ini adalah salah satu objek wisata terkenal di Brusel. Sampai di sana memang banyak sekali wisatawan berkerumun, membuat kami penasaran. Tapi ternyata Manneken Pis hanyalah patung anak laki-laki yang sedang buang air kecil. Entah apa yang membuat patung setinggi 60 cm ini menjadi sangat termasyur. Yang saya tau, kadang-kadang patung ini didandani dengan kostum lucu dengan tema tertentu. Sayangnya saat ini dia sedang telanjang tanpa baju.


Manneken Pis dari kejauhan
Highlight perjalanan di Belgia ada di hari kedua, tentu saja skydiving. Kami menempuh perjalanan kereta selama 2 jam dari Brussel untuk sampai di Spa, kota kecil di pinggiran Belgia. Katanya sih kota ini merupakan asal muasal spa yang populer di salon-salon kecantikan saat ini.

Untuk sampai di Spa Skydiving kami masih harus menumpang taxi yang saat itu mungkin cuma satu-satunya. Dari bincang-bincang dengan bu supir, kota ini hanya ramai di waktu-waktu tertentu, saat kompetisi F1 misalnya. Spa memang menjadi salah satu tuan rumah balapan F1 karena punya Circuit de Spa-Francorchamps. Sayang kami tidak sempat mampir ke sirkuit tersebut karena mengejar jadwal kereta kembali ke ibukota.  

Hari itu cukup banyak yang datang untuk skydiving. Sepertinya ada satu komunitas yang sedang liburan bersama. Ada sekitar 30 orang yang akan melakukan penerjunan di hari yang sama. Satu sesi penerbangan hanya bisa dilakukan maksimal 6 orang dengan instruktur personal masing-masing. Pesawat Cesnna Caravan hanya mampu membawa 12 penumpang untuk sekali penerbangan. Bagi peserta yang belum punya lisensi skydiving, penerjunan harus ditandem dengan instruktur profesional. Kami, peserta, hanya perlu santai, pilih dive suit, sarung tangan dan kacamata. Setelah ikut briefing singkat nasib kami tergantung sang instruktur.

Tidak sedikit dari kami yang takut dan tegang. Karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa skydiving adalah salah satu olahraga ekstrim. Berulang kali Yves, sang instruktur bertanya kesiapan saya dan memastikan kalau saya rileks dan akan menikmati adrenaline rush satu ini. Yves sendiri sudah puluhan tahun bergelut di olahraga ini. Tapi satu yang lebih mencengangkan, kakek-kakek yang sudah berumur 70an tahun terjun solo dan mengambil foto udara para peserta. Katanya tidak ada yang bisa mendokumentasikan momen-momen skydiving lebih bagus daripada sang kakek.  di  asal Belgia, yang udah skydiving puluhan tahun. Yang lebih keren lagi ada satu kakek-kakek 70an yang terbang solo dan moto para penerjun. Katanya, ga ada yang bisa lebih bagus dari dia buat dokumentasiin momen-momen skydiving.

Setelah briefing, kami terbang untuk mencapai ketinggian 13000 ft, ketinggan terjun skydiving. Di dalam pesawat, para peserta dilekatkan dengan instruktur masing-masing. Saya 'digendong' di depan Yves, seperti anak kangguru yang menempel di perut bapaknya.

And the time has come! Terlalu excited untuk takut walaupun sebelum lompat dari pesawat saya sempat deg-degan. Tapi karena tandem dengan instruktur berpengalaman, saya merasa aman. Sebelum lompat, instruktur memastikan kami siap, jangan sampai malah terpaksa jadi takut sehingga tidak menikmati prosesnya. Sayang aja kan, tapi lebih sayang uangnya sih kalau gagal terjun. Hahaha. Satu persatu kami akhirnya terjun dari pesawat.

Ada dua tahapan skydiving sebelum akhirnya mendarat. Pertama, free fall tanpa parasut. Keluar dari pintu pesawat, kita akan terjun bebas dari ketinggian 13000 ft, sekitar 4000 m. Free fall ini berlangsung 30 sampai 40 detik. Sebentar memang, tapi sudah cukup lama untuk merasakan sensasi terbang bebas bak burung di udara. Menurut saya ini adalah bagian paling fantastis dari skydiving. Kecepatan saat free fall bisa mencapai 120 mph, cukup untuk turun setengah jalan. Ya kalau dihitung-hitung, dengan kecepatan 120 mph selama 40 detik akan mengurangi ketinggan terbang sekitar 6200 ft.

Tahap kedua dimulai saat parasut mulai dikembangkan. Saat itu, saya merasa ditarik kembali ke atas. Disinilah kita mulai bisa mengatur maneuver terbang; belok kiri, kanan, turun, hingga spiral. Sebagai instruktur yang baik, Yves memberikan kesempatan kepada saya untuk mencoba mengendalikan pasarutnya. Ternyata berat sekali menarik kendali parasut untuk mengatur maneuver terbang. Mungkin dua tiga kali skydiving otot lengan saya akan langsung terbentuk. Maneuver paling asyik menurut saya adalah spiral. Tiga kali diberi gerakan serupa saya masih belum puas. Seru! Sampai akhirnya saya harus dihadapkan kenyataan bahwa keseruan ini akan segera berakhir. Waktunya mendarat.

Saya mendarat paling akhir dibandingkan Ollie dan Alus. Bukan berarti saya terbang paling lama, hanya saja saya mendapat urutan terakhir. Kira-kira dari terjun hingga mendarat akan menghabiskan waktu 15 menit. Sebentar memang, membuat saya ingin mencoba lagi, tapi apa daya bayarannya menguras kantong. Tapi setidaknya momen-momen seru tadi diabadikan dalam video yang sudah saya pesan agar bisa dilihat ulang sambil bernostalgia. Nah, untuk peserta yang mengambil paket video, selain dokumentasi udara, para instruktur juga mendokumentasikan proses skydiving mulai dari briefing sampai mendarat kembali.

Sudah lama saya ingin memposting video skydiving ini, hanya saya belum rela memampang muka jelek saya saat sedang terjun bebas. Karena terlampau excited saya berteriak-teriak kegirangan. Kyaaaaa! Sampai-sampai gigi kering karena lupa mingkem. Tapi disinilah letak kesalahan terbesarnya. Karena kecepatan yang dahsyat disertai teriakan, pipi saya bergoyang-goyang saat free fall, hidung kembang kempis, belum lagi kacamata plastik perusak kontur wajah ditambah gigi tongos yang lupa disembunyikan. Jadilah muka ini gagal tampil. Buat pamer di social media, foto saya pun harus melalui beberapa tahap pensortiran agar layak unggah.

Jadi, untuk kalian yang ingin skydiving, cobalah behaved. Jangan terlalu pecicilan, dan usahakan mingkem saat terjun bebas. Jika cukup uang, belilah kacamata gaya seperti Yves. Niscaya muka kalian akan terselamatkan di video nantinya. Karena jika tidak foto seperti inilah yang akan kalian dapatkan.


My ugly yet happy face

Thursday, February 14, 2019

Timur Indonesia

Bagi saya mengujungi tempat-tempat baru selalu menarik. Baik pantai, gunung, kota ataupun desa, masing-masing punya daya tarik tersendiri. Sering kali saya berpergian bersama teman-teman yang juga memiliki hobi serupa. Namun sendiri pun tak mengurungkan niat saya untuk travelling. Mengutip sebuah quote yang mengatakan bahwa ‘like a booktravel is the thing you buy that makes you richer’. Saya sependapat. Travelling adalah investasi yang membuat saya kaya akan pengalaman dan wawasan. Seperti halnya Semeru yang mengajarkan saya semangat pantang menyerah, Wakatobi yang mengajarkan toleransi dan ketegaran, Selayar yang mengajarkan saya untuk berani dan berpikir positif, serta Rinjani yang mengajarkan saya empati dan bertahan hidup. Tidak hanya menikmati indahnya nusantara, tapi semua perjalanan pasti mengajarkan saya berteman dan berbaur. 
Satu persatu perjalanan-perjalan itu mungkin akan saya ceritakan di blog ini. Namun kali ini saya akan menulis singkat tentang perjalanan saya tahun 2014 bersama Kerehore, sebuah grup pejalan yang mengusung moto as far as we can go, as cheap as we can pay, as happy as we can be. Kala itu kami melintasi daratan Lesser Sunda, menyusur gunung juga pantai selama 2 minggu. Berawal di Bali. 
Peta Perjalanan Kerehore
Dari Bali kami menyebrang ke Kenawa, pulau tak berpenghuni yang berjarak 20 menit dari pelabuhan Pototano dengan kapal penduduk. Snorkeling di laut lepas, makan siang dengan ikan hasil bakaran sendiri dan berburu pemandangan malam di bawah langit Kenawa yang cerah dan penuh bintang, jauh dari polusi.
Lepas dari Kenawa, perjalanan kami lanjutkan menuju Dompu untuk pendakian gunung Tambora. Sejauh pendakian saya, Tambora adalah gunung yang paling menantang. Tidak begitu banyak pendakian ke gunung yang pernah meletus dasyat 200 tahun silam ini. Akibatnya, jalur pendakian tidak begitu jelas. Pacet, jelatang dan jalanan yang licin setelah hujan membuat kami harus ekstra hati-hati. Sukses dengan pendakian Tambora yang menantang kami pun melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo.
Di Labuan Bajo menginap di pos jaga TNI. Bermodalkan kenalan salah satu teman kami mendapatkan tempat bermalam seadanyan dengan cuma-cuma. Cukup membuat backpacker seperti kami berhemat. Perjalanan seperti itu membuat kami menghargai kebersamaan dan bahagia dengan hal-hal kecil yang sering kali terlupakan dengan kesibukan di kota. Kami menyetop abang-abang penjual ‘bakso tusuk’ di depan pos jaga. Kesepuluh pejalan ini kembali ke masa kanak-kanaknya bahagia berebutan memborong bakso langsung dari panci sang penjual.
Tujuan kami singgah di Labuan Bajo adalah Kepulauan Komodo. Setelah bernegosiasi dengan penduduk lokal salah satu pemilik kapal, lusa kami pun akan berlayar menemui salah satu golongan dinosaurus terakhir, Komodo. Living on boat selama dua hari ditemani hujan abu vulkanik dari gunung Sangiang yang meletus saat kami mencapai Pulau Komodo. Karoke lagu-lagu timur bersama awak kapal menemani kami menghabiskan malam.
Puas memanjakan mata dengan pemandangan Indah Gili Laba, Pink Beach, dan diving bersama penyu-penyu di Kanawa, kami kembali ke Bajo untuk melanjutkan perjalanan ke danau tiga warna di Ende. Perjalanan dengan pick-up yang di atapi seadanya, cukup melelahkan karena jalanan di beberapa desa tidak begitu bagus. Tanah longsor di desa Ruteng memberi kami kesempatan istirahat lebih lama. Bak reporter berita kami merekam kejadian dan mewawancarai supir agar waktu menunggu jalan kembali dibuka terasa cepat berlalu. Tengah malam setelah perjalanan panjang dari Bajo kami tiba di desa Moni. Kami menghadiahi diri dengan kasur nyaman di hostel milik bapak Silverster. Keluarganya ramah, mereka tinggal di belakang penginapannya. Berbincang dengan ibu dan anaknya membuat hangat kebersamaan kami di Moni. Saya selalu suka senyum anak timur yang lebar dan kontras dengan warna kulitnya, terasa begitu lepas dan tulus.
Kami kembali berjalan menuju danau tiga warna, Kelimutu. Harapan menjumpai sunrise saat jingga mentari berbaur dengan birunya langit, mendorong kami untuk berangkat pagi buta keesokan harinya. Di puncak kami disambut awan tebal. Bapak penjual kopi berkata bahwa masyarakat lokal percaya jika siulan akan mendatangkan angin yang mengusir awan. Kami bersiul bersama sambil menikmati kopi jualannya menunggu awan pergi. Hingga akhirnya hari pun cukup siang untuk menampakkan pemandangan indah danau tiga warna. Saat itu warnanya biru muda, hijau dan hitam. Warnanya berganti disaat-saat tertentu. Magis katanya, tapi menurut ahli, ini disebabkan kandungan-kandungan mineral di dasar danau. Perjalanan 2 minggu kami berakhir di sini. Kami kembali ke Ende untuk kemudian terbang ke kota masing-masing melanjutkan rutinitas. Namun kami pulang dengan banyak cerita baru tentang Indonesia yang menakjubkan.
Rekam jejak kealayan kami di Kepulauan Lesser Sunda

Kerehore: Eling, Irene, Uri, Ayu, Dewi, Endang, Iwan, Kasfika, Elri, dan Wafiqni

Thursday, February 7, 2019

Memeluk Mimpi di Kota Paris (Part 2)

Sebelumnya sudah saya tuliskan cerita tentang Le Bourget di hari pertama saya menginjak kota Paris. Ini lanjutannya.

***
Di hari kedua saya dan Ollie berniat keliling kota melihat atraksi-atraksi utama kota Paris, sementara Alus akan jalan-jalan dengan temannya sambil mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Belanda, mungkin juga berhenti di restoran untuk mencicipi baguette dan croissant, pastri khas Perancis. Saya dan Ollie sedang berpuasa. Hari ini sudah memasuki hari ketiga bulan Ramadhan. Puasa di Eropa adalah pengalaman pertama buat kami berdua terlebih saat ini adalah musim panas. Artinya, kami harus menahan lapar dan dahaga lebih lama dibandingkan kebiasaan di Indonesia. Sembilan belas jam sejak pukul 02.30 hingga 21.30. Hebatnya lagi, kami tidak terbangun dini hari ini untuk sahur. Mungkin lelah yang menumpuk sejak perjalanan dari Brussel membuat kami terlalu lelap tadi malam. 

Kami mengunjungi menara Eiffel, namun setibanya di sana kami tidak begitu antusias, mungkin karena begitu banyak orang di ikon wisata ini. Energi kami seolah terserap oleh sesak kerumunan manusia. Mungkin juga kami dehidrasi karena puasa tanpa sahur. Tenggakan minuman kaleng dingin di meja para pengunjung yang sedang beristirahat di teras kafe sekitaran Eiffel benar-benar menggoda iman.

Berada di pinggir sungai Seine, kami tidak ingin melewatkan kesempatan berkeliling kota Paris dengan cruising boat. Waktu itu tiket per orang dibandrol seharga €15 (sekitar Rp225.000). Cukup duduk manis di kapal dan tour guide akan menjelaskan sejarah setiap landmark yang kami lewati selama satu jam perjalanan, seperti Notre Dame Catedral, Pont Neuf dan Orsay Museum. Kami memilih duduk di bagian kapal paling atas yang terbuka tanpa atap agar lebih leluasa memandangi kota. Di dalam kapal ada bar kecil yang menjual sandwich dan minuman dingin. Kalau saja kami tidak berpuasa, tentu sangat nikmat meneguk sebotol coca-cola di tengah teriknya matahari Paris. 

Sebelum berangkat kami disarankan Tsania untuk mengunjungi museum Louvre, tempat tinggal lukisan tersohor Monalisa. Katanya, ada pintu masuk alternatif di sekitaran area perbelanjaan Rue de Rivoli dengan antrian yang lebih sedikit dibandingkan pintu masuk utama. Sayangnya kami tidak menemukan pintu yang dimaksud. Akhirnya kami hanya berkeliling di luar museum, beristirahat di sekitar ‘Louvre Pyramid’ sambil memperhatikan orang-orang di sekitar. Banyak pengunjung yang berfoto seolah-olah memegang puncak piramid, ada sekelompok wanita yang sepertinya sedang merayakan kebersamaan dengan berfoto bersama dengan calon mempelai wanitanya, ada pula penjual souvenir yang hilir mudik menjajakan gantungan kunci replika menara Eiffel. 

Selepas dari Louvre kami berniat menyambangi Arc de Triomph, monumen kemenangan Napoleon saat perang dunia ke-2. Di barat Louvre kami melihat sebuah monumen serupa namun lebih kecil dan ada beberapa patung kuda di atasnya. Ternyata memang ada dua monumen kemenangkan di kota Paris dan keduanya dimaksudkan untuk menyambut kemenangan sang penjelajah. Monumen yang baru saja kami lihat ternyata adalah Arc de Triomphe du Carousel yang memang kerap mengecoh wisatawan. Sedangkan Arc de Triompe de l’Etoile yang kami maksud berada di ujung jalan Champs Elysees dengan ukuran dua kali lebih dibandingkan monumen satunya. Bersyukur kami bisa menghampiri kedua gerbang megah yang dibangun tahun 1800-an ini. 

Tidak banyak yang spesial di hari ini. Seperti kebanyakan wisatawan asing lainnya, kami mengunjungi beberapa landmark utama kota Paris. Satu hal yang tidak biasa bagi saya dan Ollie adalah duduk lesehan di sebuah plaza terbuka sambil mengelilingi penampilan break-dance dari beberapa anak muda kota Paris. Tentu bukan tontonan gratis. Diakhir liak-liuk atraksi, mereka menyodorkan ember kecil untuk menampung recehan Euro dari para penonton.
Sajian break dance di kota Paris

Hampir satu jam kami habiskan di plaza itu namun senja pun belum terlihat tanda-tanda kedatangannya. Artinya waktu buka puasa masih lama. Kami pikir akan sangat membosankan jika kami pulang dan menunggu senja sambil bermalas-malasan di kamar Tsania. Toh kami sudah tidur panjang tadi malam. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu taman di pinggiran Paris yaitu Saint Germain en Laye. Dari pusat kota, taman ini bisa dicapai sekitar empat puluh menit perjalanan menggunakan RER dan dilanjutkan dengan bis. Seperti taman-taman di Paris pada umumnya, Saint Germain en Laye adalah pekarangan sebuah kastil dengan nama yang sama. Sekarang kastil ini difungsikan sebagai museum arkeologi. Posisi taman yang cukup tinggi membuat kami bisa menatap kota Paris dari ketinggian. Sore itu pun kami habiskan dengan bersantai sambil menikmati musik di hamparan rumput taman yang luas. 

***
Ini adalah hari terakhir kami di Paris. Alus akan kembali ke Delft siang ini. Sedang saya dan Ollie akan kembali ke Inggris besok pagi-pagi sekali. Karena bis dimulai pukul 05.00, maka kami memutuskan untuk bermalam di bandara Charles de Gaulle agar tidak terlambat esok hari. Pesawat Ollie akan take-off pukul 07.00 menuju Southampton. Sedangkan saya berangkat menuju London pukul 08.00. Di hari Minggu ini kami hanya bermalas-malasan bersama Tsania di kediamannya. Rencananya kami akan menghabiskan malam di kota Paris menikmati festival musik sambil menunggu kereta terakhir ke bandara. Setiap tahunnya, pada tanggal 21 Juni memang selalu digelar FĂȘte de la Musique yang secarah harfiah berarti festival musik. Tradisi ini dimulai di Paris tahun 1982 untuk merayakan summer solstice, titik balik matahari di musim panas. Sepanjang hari ini akan banyak gigs dengan beragam genre musik yang memenuhi sudut-sudut kota Paris. Dan semuanya bisa kita nikmati secara gratis. 

Hingga sore, hari ini hanya kami habiskan dengan ngobrol dan melihat foto-foto dari perjalanan kemarin. Sebelum benar-benar beranjak dari Rueil Malmaison, saya dan Ollie memasak perbekalan buka hari ini dan sahur esok hari. Sosis goreng, telor rebus dan pisang untuk sahur, sedang capcay udang, kentang, choco mouse dan aneka coklat untuk berbuka puasa. Rencananya kami ada berangkat menjelang berbuka puasa dan menunggu magrib sambil menikmati matahari senja di Luxemburg Jardin, taman seluas 25 ha yang merupakan pekarangan dari Luxemburg Palace. Setelahnya kami berharap disuguhi alunan lagu dari musisi kota Paris. 

Sekitar pukul 20.00 kami berangkat menuju taman Luxemburg. Langit masih sepeti jam empat sore di Jakarta, tapi kami tahu 1,5 jam lagi selesai sudah dahaga hari ini. Kami sampai di taman itu hampir jam 9 malam dan mendapati sebuah bangku taman di depan kolam air mancur menghadap ke barat dengan istananya di sebelah kanan. Perfect spot! Saya membayangkan kami menyantap hidangan buka puasa saat matahari terbenam dengan pemandangan yang mempesona mata.

Baru saja saya dan Ollie berniat menata makanan yang kami bawa di atas meja taman, kami mendengar suara peluit berulang-ulang. Orang-orang di sekitar kami pun beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Ternyata gerbang taman ini akan ditutup jam 9 malam. Buyar sudah angan kami untuk makan dengan latar belakang pemandangan indah taman ini. Dengan lunglai kami pun beranjak mencari tempat lain untuk berbuka puasa. Beruntung kami menemukan taman kecil di tengah kafe-kafe tak jauh dari Luxemburg Jardin. Taman ini terlalu ramai, namun kami sudah terlalu lelah untuk mencari perfect spot lainnya. 

Tak ayal saya dan Ollie jadi perhatian orang sekitar. Dua wanita berhijap dengan tas keril besar dipunggungnya menenteng kamera dan plastik besar berisi makanan. Dipinggir kolam mini kami membuka bekal buka puasa yang kami bawa. Bisa jadi kami dikira backpacker muslim yang kelaparan atau mungkin duet pemudi yang kabur dari rumah dan sekarang tidak punya tempat tinggal alias homeless. Entahlah. Tapi kami terlalu lapar untuk menghiraukan orang-orang sekitar. 

Setelah perut kami terisi kembali dan emosi tentang taman tadi mulai teredam, kami siap untuk agenda terakhir di kota ini. Fete de la Musique. Tak jauh dari taman kecil ini, tepat di pojokan jalan sekelompok musisi sedang mempersiapkan alat tempurnya. Kami pun memutuskan untuk menghabiskan malam di sini. Selain karena enggan berjalan lebih jauh, tempat ini dekat dengan stasiun RER sehingga akan memudahkan kami untuk menuju bandara tengah malam nanti. Beruntung band ini membawakan beberapa lagu yang bisa kami nyanyikan menambah keasyikan konser kecil ini. Anak-anak muda lokal pun berdiri mengeliling panggung mini dan ikut bernyanyi. Bahkan ikut melompat-lompat ketika merea membawakan lagu yang bersemangat. Saya dan Ollie dengan antusias menikmati musik dari atas pagar besi, duduk sambil mendokumentasikan beberapa scene dari panggung malam ini. Hampir dua jam kami menikmati atmosfer malam Paris dengan festival musiknya yang romantis. Dan Fete de la Musique inilah yang akhirnya menutup perjalanan kami di Paris dengan manis.