Di postingan sebelumnya sudah saya singgung rencana skydiving dalam perjalanan saya menjajal barat Eropa. Dan kali ini, saya akan bercerita tentang pengalaman saya terjun dari pesawat di langit Belgia, skydiving. Buat yang belum tau, simpelnya skydiving itu terjun bebas dari pesawat, dari ketinggian tertentu dan kemudian mendarat dengan menggunakan parasut. Serupa terjun payung, bedanya skydiving diawali dengan akrobat di udara sebelum parasut dibuka.
Hasrat ingin skydiving sebenernya sudah dipupuk sejak salah satu teman, Stepen, memamerkan videonya yang lebih dulu mencoba skydiving di Jepang. Sejak saat itu, skydiving is on my long to-do-list. Yang saya bilang to-do-list sebenarnya adalah daftar angan-angan yang ada di khayalan saya, tidak benar-benar saya tuliskan. Tapi intinya, satu lagi capaian saya tuntaskan di perjalanan ke Eropa kali ini.
Dari hasil penelusuran di Google, saya memilih Spa Skydiving yang ada di Belgia. Dengan membanding beberapa operator skydiving di Belanda, Prancis dan Belgia, Spa Skydiving lah yang paling memenuhi kriteria; websitenya bagus dengan dilengkapi versi bahasa Inggris, menawarkan fitur daftar secara online dan available di tanggal yang saya inginkan. Tapi sebenarnya alasan utamanya bukan itu. Spa Skydiving terpilih karena paling murah diantara operator-operator lainnya. Hehehe, mohon dimaklumi kondisi kantong mahasiswa rantau dengan beasiswa dari negara, prinsip ekonomis pastinya selalu diutamakan. Saya harus merogoh kocek £190 untuk paket skydiving dengan video. Bukan jumlah yang kecil tapi ini jauh lebih murah dibandingkan skydiving di UK untuk paket yang sama, yang dihargai £300. Hampir setengahnya kan?!
***
Hasrat ingin skydiving sebenernya sudah dipupuk sejak salah satu teman, Stepen, memamerkan videonya yang lebih dulu mencoba skydiving di Jepang. Sejak saat itu, skydiving is on my long to-do-list. Yang saya bilang to-do-list sebenarnya adalah daftar angan-angan yang ada di khayalan saya, tidak benar-benar saya tuliskan. Tapi intinya, satu lagi capaian saya tuntaskan di perjalanan ke Eropa kali ini.
Dari hasil penelusuran di Google, saya memilih Spa Skydiving yang ada di Belgia. Dengan membanding beberapa operator skydiving di Belanda, Prancis dan Belgia, Spa Skydiving lah yang paling memenuhi kriteria; websitenya bagus dengan dilengkapi versi bahasa Inggris, menawarkan fitur daftar secara online dan available di tanggal yang saya inginkan. Tapi sebenarnya alasan utamanya bukan itu. Spa Skydiving terpilih karena paling murah diantara operator-operator lainnya. Hehehe, mohon dimaklumi kondisi kantong mahasiswa rantau dengan beasiswa dari negara, prinsip ekonomis pastinya selalu diutamakan. Saya harus merogoh kocek £190 untuk paket skydiving dengan video. Bukan jumlah yang kecil tapi ini jauh lebih murah dibandingkan skydiving di UK untuk paket yang sama, yang dihargai £300. Hampir setengahnya kan?!
***
Hari pertama di Belgia, saya, Alus dan Ollie mengitari kota Brussel bak turis-turis lainnya. Kami mencari waffle, mencoba coklat dan satu hal yang paling berkesan, menemui sang legenda Manneken Pis. Dari brosur yang kami dapatkan di penginapan, patung ini adalah salah satu objek wisata terkenal di Brusel. Sampai di sana memang banyak sekali wisatawan berkerumun, membuat kami penasaran. Tapi ternyata Manneken Pis hanyalah patung anak laki-laki yang sedang buang air kecil. Entah apa yang membuat patung setinggi 60 cm ini menjadi sangat termasyur. Yang saya tau, kadang-kadang patung ini didandani dengan kostum lucu dengan tema tertentu. Sayangnya saat ini dia sedang telanjang tanpa baju.
Highlight perjalanan di Belgia ada di hari kedua, tentu saja skydiving. Kami menempuh perjalanan kereta selama 2 jam dari Brussel untuk sampai di Spa, kota kecil di pinggiran Belgia. Katanya sih kota ini merupakan asal muasal spa yang populer di salon-salon kecantikan saat ini.
Untuk sampai di Spa Skydiving kami masih harus menumpang taxi yang saat itu mungkin cuma satu-satunya. Dari bincang-bincang dengan bu supir, kota ini hanya ramai di waktu-waktu tertentu, saat kompetisi F1 misalnya. Spa memang menjadi salah satu tuan rumah balapan F1 karena punya Circuit de Spa-Francorchamps. Sayang kami tidak sempat mampir ke sirkuit tersebut karena mengejar jadwal kereta kembali ke ibukota.
![]() |
| Manneken Pis dari kejauhan |
Untuk sampai di Spa Skydiving kami masih harus menumpang taxi yang saat itu mungkin cuma satu-satunya. Dari bincang-bincang dengan bu supir, kota ini hanya ramai di waktu-waktu tertentu, saat kompetisi F1 misalnya. Spa memang menjadi salah satu tuan rumah balapan F1 karena punya Circuit de Spa-Francorchamps. Sayang kami tidak sempat mampir ke sirkuit tersebut karena mengejar jadwal kereta kembali ke ibukota.
Hari itu cukup banyak yang datang untuk skydiving. Sepertinya ada satu komunitas yang sedang liburan bersama. Ada sekitar 30 orang yang akan melakukan penerjunan di hari yang sama. Satu sesi penerbangan hanya bisa dilakukan maksimal 6 orang dengan instruktur personal masing-masing. Pesawat Cesnna Caravan hanya mampu membawa 12 penumpang untuk sekali penerbangan. Bagi peserta yang belum punya lisensi skydiving, penerjunan harus ditandem dengan instruktur profesional. Kami, peserta, hanya perlu santai, pilih dive suit, sarung tangan dan kacamata. Setelah ikut briefing singkat nasib kami tergantung sang instruktur.
Tidak sedikit dari kami yang takut dan tegang. Karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa skydiving adalah salah satu olahraga ekstrim. Berulang kali Yves, sang instruktur bertanya kesiapan saya dan memastikan kalau saya rileks dan akan menikmati adrenaline rush satu ini. Yves sendiri sudah puluhan tahun bergelut di olahraga ini. Tapi satu yang lebih mencengangkan, kakek-kakek yang sudah berumur 70an tahun terjun solo dan mengambil foto udara para peserta. Katanya tidak ada yang bisa mendokumentasikan momen-momen skydiving lebih bagus daripada sang kakek. di asal Belgia, yang udah skydiving puluhan tahun. Yang lebih keren lagi ada satu kakek-kakek 70an yang terbang solo dan moto para penerjun. Katanya, ga ada yang bisa lebih bagus dari dia buat dokumentasiin momen-momen skydiving.
Setelah briefing, kami terbang untuk mencapai ketinggian 13000 ft, ketinggan terjun skydiving. Di dalam pesawat, para peserta dilekatkan dengan instruktur masing-masing. Saya 'digendong' di depan Yves, seperti anak kangguru yang menempel di perut bapaknya.
And the time has come! Terlalu excited untuk takut walaupun sebelum lompat dari pesawat saya sempat deg-degan. Tapi karena tandem dengan instruktur berpengalaman, saya merasa aman. Sebelum lompat, instruktur memastikan kami siap, jangan sampai malah terpaksa jadi takut sehingga tidak menikmati prosesnya. Sayang aja kan, tapi lebih sayang uangnya sih kalau gagal terjun. Hahaha. Satu persatu kami akhirnya terjun dari pesawat.
And the time has come! Terlalu excited untuk takut walaupun sebelum lompat dari pesawat saya sempat deg-degan. Tapi karena tandem dengan instruktur berpengalaman, saya merasa aman. Sebelum lompat, instruktur memastikan kami siap, jangan sampai malah terpaksa jadi takut sehingga tidak menikmati prosesnya. Sayang aja kan, tapi lebih sayang uangnya sih kalau gagal terjun. Hahaha. Satu persatu kami akhirnya terjun dari pesawat.
Ada dua tahapan skydiving sebelum akhirnya mendarat. Pertama, free fall tanpa parasut. Keluar dari pintu pesawat, kita akan terjun bebas dari ketinggian 13000 ft, sekitar 4000 m. Free fall ini berlangsung 30 sampai 40 detik. Sebentar memang, tapi sudah cukup lama untuk merasakan sensasi terbang bebas bak burung di udara. Menurut saya ini adalah bagian paling fantastis dari skydiving. Kecepatan saat free fall bisa mencapai 120 mph, cukup untuk turun setengah jalan. Ya kalau dihitung-hitung, dengan kecepatan 120 mph selama 40 detik akan mengurangi ketinggan terbang sekitar 6200 ft.
Tahap kedua dimulai saat parasut mulai dikembangkan. Saat itu, saya merasa ditarik kembali ke atas. Disinilah kita mulai bisa mengatur maneuver terbang; belok kiri, kanan, turun, hingga spiral. Sebagai instruktur yang baik, Yves memberikan kesempatan kepada saya untuk mencoba mengendalikan pasarutnya. Ternyata berat sekali menarik kendali parasut untuk mengatur maneuver terbang. Mungkin dua tiga kali skydiving otot lengan saya akan langsung terbentuk. Maneuver paling asyik menurut saya adalah spiral. Tiga kali diberi gerakan serupa saya masih belum puas. Seru! Sampai akhirnya saya harus dihadapkan kenyataan bahwa keseruan ini akan segera berakhir. Waktunya mendarat.
Saya mendarat paling akhir dibandingkan Ollie dan Alus. Bukan berarti saya terbang paling lama, hanya saja saya mendapat urutan terakhir. Kira-kira dari terjun hingga mendarat akan menghabiskan waktu 15 menit. Sebentar memang, membuat saya ingin mencoba lagi, tapi apa daya bayarannya menguras kantong. Tapi setidaknya momen-momen seru tadi diabadikan dalam video yang sudah saya pesan agar bisa dilihat ulang sambil bernostalgia. Nah, untuk peserta yang mengambil paket video, selain dokumentasi udara, para instruktur juga mendokumentasikan proses skydiving mulai dari briefing sampai mendarat kembali.
Sudah lama saya ingin memposting video skydiving ini, hanya saya belum rela memampang muka jelek saya saat sedang terjun bebas. Karena terlampau excited saya berteriak-teriak kegirangan. Kyaaaaa! Sampai-sampai gigi kering karena lupa mingkem. Tapi disinilah letak kesalahan terbesarnya. Karena kecepatan yang dahsyat disertai teriakan, pipi saya bergoyang-goyang saat free fall, hidung kembang kempis, belum lagi kacamata plastik perusak kontur wajah ditambah gigi tongos yang lupa disembunyikan. Jadilah muka ini gagal tampil. Buat pamer di social media, foto saya pun harus melalui beberapa tahap pensortiran agar layak unggah.
Jadi, untuk kalian yang ingin skydiving, cobalah behaved. Jangan terlalu pecicilan, dan usahakan mingkem saat terjun bebas. Jika cukup uang, belilah kacamata gaya seperti Yves. Niscaya muka kalian akan terselamatkan di video nantinya. Karena jika tidak foto seperti inilah yang akan kalian dapatkan.
Tahap kedua dimulai saat parasut mulai dikembangkan. Saat itu, saya merasa ditarik kembali ke atas. Disinilah kita mulai bisa mengatur maneuver terbang; belok kiri, kanan, turun, hingga spiral. Sebagai instruktur yang baik, Yves memberikan kesempatan kepada saya untuk mencoba mengendalikan pasarutnya. Ternyata berat sekali menarik kendali parasut untuk mengatur maneuver terbang. Mungkin dua tiga kali skydiving otot lengan saya akan langsung terbentuk. Maneuver paling asyik menurut saya adalah spiral. Tiga kali diberi gerakan serupa saya masih belum puas. Seru! Sampai akhirnya saya harus dihadapkan kenyataan bahwa keseruan ini akan segera berakhir. Waktunya mendarat.
Saya mendarat paling akhir dibandingkan Ollie dan Alus. Bukan berarti saya terbang paling lama, hanya saja saya mendapat urutan terakhir. Kira-kira dari terjun hingga mendarat akan menghabiskan waktu 15 menit. Sebentar memang, membuat saya ingin mencoba lagi, tapi apa daya bayarannya menguras kantong. Tapi setidaknya momen-momen seru tadi diabadikan dalam video yang sudah saya pesan agar bisa dilihat ulang sambil bernostalgia. Nah, untuk peserta yang mengambil paket video, selain dokumentasi udara, para instruktur juga mendokumentasikan proses skydiving mulai dari briefing sampai mendarat kembali.
Sudah lama saya ingin memposting video skydiving ini, hanya saya belum rela memampang muka jelek saya saat sedang terjun bebas. Karena terlampau excited saya berteriak-teriak kegirangan. Kyaaaaa! Sampai-sampai gigi kering karena lupa mingkem. Tapi disinilah letak kesalahan terbesarnya. Karena kecepatan yang dahsyat disertai teriakan, pipi saya bergoyang-goyang saat free fall, hidung kembang kempis, belum lagi kacamata plastik perusak kontur wajah ditambah gigi tongos yang lupa disembunyikan. Jadilah muka ini gagal tampil. Buat pamer di social media, foto saya pun harus melalui beberapa tahap pensortiran agar layak unggah.
Jadi, untuk kalian yang ingin skydiving, cobalah behaved. Jangan terlalu pecicilan, dan usahakan mingkem saat terjun bebas. Jika cukup uang, belilah kacamata gaya seperti Yves. Niscaya muka kalian akan terselamatkan di video nantinya. Karena jika tidak foto seperti inilah yang akan kalian dapatkan.
![]() |
| My ugly yet happy face |



