Suatu kali aku ditanyai papa, “cita-citamu apa?” Kujawab, “jadi Habibie”. “Jadi insinyur mungkin, bukan Habibie”, timpal papa. Kurasa sosok ini begitu menggema di televisi, sampai-sampai tersebut namanya dalam cita-cita seorang bocah. Saat itu usiaku mungkin belum genap 8 tahun.
Mungkin kebetulan atau memang doktrin masa kecil yang kuat melekat, jalanNya membawaku ke industri dirgantara, bidang di mana nama besarnya dielukan. Masih kuingat saat bingung menentukan pilihan jurusan universitas yang ada di buku panduan UMPTN, salah satu yang terbersit di benakku adalah Teknik Penerbangan. Semesta seolah mengiyakan lewat komentar papa waktu itu, “Teknik Penerbangan aja, katanya mau jadi Habibie."
Sekali ketika aku bertemu. Beliau begitu rendah hati menyapa para mahasiswa sebagai cucu-cucunya, ramah menatap kami yang berjejer rapi bergiliran ingin menyalami sang idola. Waktu itu, aku sempat iri saat yang eyang elus adalah pipinya salah satu seniorku. Iya, dulu aku senorak itu.
11 September 2019. Hari ini beliau berpulang, menyisakan cerita dan cita-cita. Aku masih bertahan di sini, bersama kenangan Gatot Kaca yang beliau torehkan saat dipanggil kembali ke Indonesia, masih di sini mencoba melanjutkan cita-cita Habibie untuk pesawat merah putih.
Tapi eyang, sedihku hari ini bercampur kecewa. Ada hal yang membuatku ingin berhenti saja. Aku khawatir tak bisa bertahan sampai cita-citamu mengangkasa. Maaf, eyang, tapi ketika suatu itu sudah tidak lagi masuk dalam lingkaran toleransi, aku akan pergi. Hahaha, tapi aku siapa, sih? Hanya kerikil di gunung kepintaran Habibie. Pergiku pun tak ada pengaruh untuk cita-citamu. Maafkan ketidaksopanku. Sempat-sempatnya aku berkeluh di saat engkau berpulang.

No comments:
Post a Comment