Thursday, January 24, 2019

Diving Pertama, Begitu Menggoda

Akhir-akhir ini di Instagram sedang ramai #10YearsChallenge. Netizen diajak untuk mengunggah foto masing-masing dari 10 tahun yang lalu. Mungkin sebagai bahan perbandingan untuk melihat perubahan dan pencapaian dibandingkan dengan 10 tahun silam, atau bisa jadi hanya untuk nostagia.  Berencana ikut serta dalam trend ini, koleksi foto-foto lama pun saya ulik kembali. Saya lihat lagi galeri foto yang tersimpan di laptop, Instagram, Facebook, sampai akhirnya saya temukan sebuah foto ini dalam posting-an di blog terdahulu, foto pertama saya di bawah laut.  

Finding Nemo
Sayangnya foto ini tidak memenuhi kriteria karena baru berusia 9 tahun, tepatnya diambil di bulan Februari 2010. Tapi foto ini mengingatkan saya akan kejadian konyol 9 tahun lalu. 

Waktu itu, saya dan beberapa teman kuliah berpartisipasi dalam konferensi RC-MeAe di Sanur, Bali. Selama dua hari, saya terlibat di kegiatan ini. Tidak hanya sebagai panitia, tapi saya juga berkesempatan untuk mempresentasikan poster tugas akhir saya dalam konferensi tersebut. Untuk sebagian kami, termasuk saya, ini adalah kali pertama menyambangi Bali. Dua hari tentunya kurang untuk bisa menikmati keindahan Pulau Dewata. Apalagi, kami lebih banyak disibukkan dengan kegiatan di konferensi. Akhirnya, saya dan 8* orang teman memutuskan untuk extend liburan di Bali.

Seolah didukung oleh alam semesta, banyak  keberuntungan yang kami alami di liburan kali ini. Terutama penghematan di pengeluraan. Maklumlah, untuk anak kuliahan yang saat itu belum punya penghasilan tetap, budget jalan-jalan harus diminimalisir. Keberuntungan ini diawali dengan tiket pesawat murah yang kami dapatkan untuk kepulangan ke Bandung. Berkat kemurahan hati salah satu dosen saya, Pak Raka, kami pun mendapatkan tempat tinggal selama di Bali dengan cuma-cuma. Memang saat itu saya sedang membantu penelitian mba Dewi, anak Pak Raka yang sedang menyelesaikan studi doktoralnya. Mengetahui saya akan extend beberapa hari di Bali, Pak Raka menawarkan rumahnya di daerah Gianyar. Tidak hanya rumah, kami pun dipinjami mobil berikut supirnya. Beruntung!

Pagi hari setelah check out, kami menyempatkan diri untuk jalan-jalan di dalam kota sebelum menuju Gianyar, sembari menunggu jemputan supir Pak Raka. Barang-barang kami tinggal di concierge hotel agar lebih leluasa. Rute pagi ini kami serahkan ke supir teman bokapnya Stepen yang bersedia menjadi guide kami di kota Denpasar. Oleh Pak Supir kami diajak ke Tanjung Benoa menuju wahana watersport di daerah Badung, Kuta Selatan. Namun rupanya harga wahana permainan di sana cukup mahal. Paraceiling dihargai Rp. 150.000 sementara discovery diving Rp. 450.000, bahkan lebih mahal daripada tiket pesawat pulang yang kami beli. Uang insentif dari kepanitian tidak mencukupi untuk mencoba banyak wahana permainan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang dulu sambil berdiskusi. Perut kami memang sudah keroncongan, meronta minta diisi makanan.

Jauh-jauh main ke Bali, restoran yang dipilih tetap warung padang. Lebih terjamin rasanya, pikir kami. Di sana kami bertemu dengan Pak Agus, pembimbing Iqbal saat kerja praktek di PTDI. Obrolan makan siang dengan Pak Agus dan teman-temannya mengantarkan kami pada solusi untuk kantong mahasiswa kere yang pengen main di Tanjung Benoa. Pak Agus ternyata punya teman yang mengelola wahana watersport di sana dan kami bisa dapat harga spesial. Diantarkan Pak Agus, kami kembali ke Tanjung Benoa. Masalah tawar menawar harga kami serahkan sepenuhnya ke beliau. Alhasil, dengan Rp. 300.000 kami bisa merasakan diving dan parasailing. Setengah dari harga sebelumnya. Alhamdulillah, lagi-lagi beruntung. 

Bodohnya saya tidak mempersiapkan pakaian ganti. Barang-barang saya tinggal di hotel. Awalnya memang hanya ingin sekedar jalan-jalan di sekitar Bali tanpa basah-basahan. Tapi rencana berubah karena takdir membawa kami ke Tanjung Benoa yang murah. Sialnya, di sana tidak tersedia diving suit berlengan panjang untuk saya yang berhijab. Saat itu saya hanya mengenakan kaos oblong dengan jaket. It's my favorite style that time, t-shirt with zipped hoodie, bahkan untuk Bali yang panas sekalipun.

Untuk memuaskan rasa penasaran, tekad saya bulat ingin mencoba diving pertama kalinya hingga akhirnya saya diving dengan hoodie berbalut diving suit, seperti foto di atas. Kalau diingat lagi, ini bodoh dan aneh memang. Bahkan sang instruktur divingnya pun menertawakan kekonyolan saya. "Baru kali ini saya lihat ada yang diving pakai jaket", katanya. Lihat, jaket abu favorit saya menyembul dari dalam diving suit lengan pendek yang saya pakai. Sampai kinipun  jaketnya masih tersimpan rapi dalam lemari. Sebagai pengingat salah satu kekonyolan yang pernah saya alami.

Well, it was unplanned. Tapi inilah yang mengantarkan saya ke pengalaman diving berikutnya. Terima kasih Tanjung Benoa. And now, I already hold advanced certification for scuba diving. Perkenalan pertama yang begitu menggoda ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bawah laut Indonesia lainnya. Ya, yang pertama biasanya selalu berkesan, tapi yang kedua, ketiga dan selanjutnya bisa jadi lebih indah.


8 orang: Stepen, Iqbal, Luthfi, Soleh, Hafiz, Sakti, Anu dan Ridlo

1 comment:

  1. Mengingat ini ditulis 2019, lo masih inget ya detail kejadian nya.. Keren

    ReplyDelete