Setiap kali ada yang bertanya 'ngapain naik gunung?' saya hanya menjawab sekenanya 'jalan-jalan' 'iseng' atau apalah. Saya suka jalan-jalan; kota oke, desa oke, laut oke, lalu kenapa gunung tidak, pikir saya. Tidak ada yang spesial. Toh, mengunjungi tempat baru, pengalaman baru. Bukan sebenar-benar hobi seperti beberapa teman yang sudah sering menaklukkan tingginya gunung di Indonesia. Begitu pun perjalanan ke Semeru 17 Mei 2012 lalu. Ini kali kedua saya naik gunung. Awalnya saya tidak diajak ikut oleh teman karena alasan gender, track nya susah buat cewek katanya. Tapi akhirnya saya dan seorang teman perempuan dari FK Unpad, Kaka, masuk dalam daftar pendaki, walaupun malam hari sebelum keberangkatan saya sempat ragu karena ada masalah dengan perut saya, sepertinya masalah pencernaan. But, finally, Semeru! Yang saya ingat hanya sedikit scene cerita dari novel Donny Dirgantara yang berjudul 5cm. Itu pun sudah remang. Tidak terbayang sulitnya pendakian yang akan saya tempuh hingga saya dihadapkan pada lereng gunung Mahameru.
Rabu sore itu, saya dan 11* orang teman lainnya janji berkumpul di stasiun kereta Bandung untuk berangkat ke Malang. Saat menunggu yang lain datang, orang tua saya menelpon. Memang saya belum meminta izin ke orang tua untuk pergi ke Semeru. Niatnya, bilang ke orang tua pada saat saya sudah sampai di Malang karena saya tidak akan mendapat izin pergi kalau meminta izin di awal. Kalau saya sudah sampai di Malang, there is no way back dan probabilitas untuk dizinkan naik menjadi 90% walaupun dengan berat hati, mungkin. Saat orang tua menelpon sore itu dan bertanya saya sedang dimana, saya jawab apa adanya bahwa saya sedang di stasiun, on my way to Semeru. Dengan berat hati pun orang tua mengizinkan karena saya 'menjual' teman-teman yang sudah sering mendaki gunung. Meski dengan embel-embel, 'setelah ini sudah ya, kalo memang suka yang begituan pulang ke Bengkulu saja, berkebun!'. Hahaha, that is truly different, daddy! Mungkin mereka sedikit sangsi karena sebelumnya seorang wakil menteri meninggal pada saat mendaki Rinjani. Alhamdulillah orang tua saya tidak tau kalau Semeru itu puncak tertinggi di pulau Jawa. Jadi, izin sukses! Saya pun juga baru tau kalau Semeru adalah puncak tertinggi di Jawa saat sampai di Malang, kebodohan manusia impulsif seperti saya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 16 jam, kami pun tiba di Malang jam 8 pagi. Singkat cerita, sampailah kami di Ranu Pane dengan jeep sewaan dari desa Tumpang.
***
Setelah mendapatkan izin, petualangan menuju puncak Mahameru pun dimulai. Saat itu, sekitar jam 4 sore. Tujuan pertama adalah Ranu Kumbolo, daerah perkemahan di pinggir danau, dengan perkiraan waktu tempuh sekitar 6 jam. Awalnya perjalanan saya tempuh dengan semangat dan gembira. Namun, lama-kelamaan ketahanan fisik mulai menurun. Padahal rute yang ditempuh tidak securam rute pendakian Gunung Gede yang pernah saya lalui sebelumnya. Tapi saya enggan mengeluh, enggan dikasihani, toh yang lain juga tetap bertahan. Sebelum berangkat, memang latihan fisik saya kurang maksimal. Target yang disyaratkan oleh teman-teman cowok yaitu 6 keliling sabuga dibawah 12 menit, tidak tercapai. Untuk 14 menit saya hanya bisa lari 4 keliling track sabuga. Akhirnya, rasa lelah mulai menurunkan determinasi. Saya kembali bertanya 'ngapain naik gunung?' Liburan kok nyari susah. Sepertinya dari awal determinasi saya kurang memuncak, mulai dari keraguan saat sakit perut hingga gundah karena izin orang tua. Memang lelah bisa menimbulkan keraguan. Tapi perjalanan tetap berlanjut hingga kami akhirnya mencapai Ranu Kumbolo di malam harinya.
Rasanya sudah ingin langsung terlelap, rasa lelah mengalahkan perut yang lapar. Saya bisa hanya makan coklat, madu, atau snack apapun untuk mengisi perut. Tapi, ini tim yang isinya 12 orang. Egois tidak bisa dibenarkan. Akhirnya, setelah beristirahat sejenak, sebagian mendirikan tenda, sebagian lain memasak. Hari ini, banyak sekali pendaki lain yang juga mendirikan tenda di Ranu Kumbolo. Maklum, libur panjang Kenaikan Isa Almasih. Kami mendapatkan tempat di pinggir danau.
***
Paginya, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kalimati, saya dan Kaka menikmati pagi di pinggir danau, sayangnya kami tidak mendapati sunrise yang indah karena posisi tenda berada terpisah dengan tanjakan cinta. Untuk menikmati sunrise, pendaki sebaiknya mendirikan tenda di camping ground dibalik danau yang menyatu dengan tanjakan cinta. Pagi itu adalah pengalaman baru buat saya untuk menjadi seorang survivor, buang hajat di alam. Hahaha. Seingat saya ini adalah kali pertama. Agak sulit menemukan tempat yang pas untuk buang hajat di Ranu Kumbolo karena daerah ini adalah savana terbuka yang dikelilingi bukit-bukit. Beberapa tempat yang agak tertutup pun dipenuhi oleh orang lain yang juga melakukan pencarian yang sama.
Setelah sarapan, kira-kira jam 10 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju ke Kalimati.. Kira-kira 4 jam perjalanan kami tempuh melewati tanjakan cinta dan padang lavender bernama Oro-oro Ombo yang indah. Pemandangan ungu menghampar di tengah-tengah bukit hijau itu sangat indah sampai akhirnya kami dihadapkan pada hutan pinus yang akan mengantarkan kami ke tempat istirahat terakhir sebelum akhirnya melakukan perjalanan malam ke puncak Mahameru bernama Kalimati.
Setelah sarapan, kira-kira jam 10 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju ke Kalimati.. Kira-kira 4 jam perjalanan kami tempuh melewati tanjakan cinta dan padang lavender bernama Oro-oro Ombo yang indah. Pemandangan ungu menghampar di tengah-tengah bukit hijau itu sangat indah sampai akhirnya kami dihadapkan pada hutan pinus yang akan mengantarkan kami ke tempat istirahat terakhir sebelum akhirnya melakukan perjalanan malam ke puncak Mahameru bernama Kalimati.
***
Malam ini kami akan menempuh jarak horizontal kira-kira 3 kilometer untuk mencapai puncak Mahameru. Perjalanan dimulai jam 11.30 malam. Berjalan sambil bernyanyi riang gembira membuat perjalanan kami tidak begitu terasa lelah. Indahnya kebersamaan memang. Dengan satu jam perjalanan kami sudah sampai di Arcopodo dan kira-kira satu jam kemudian kami pun sudah sampai di batas vegetasi. Jalan setelah ini sempit dan macet, penuh antrian karena ramainya para pendaki saat ini hingga akhirnya setengah jam kemudian kami sampai pada lereng puncak Mahameru yang legendaris dengan track pasirnya. Disini saya baru mengerti alasan kenapa saya diminta untuk memakai sepatu. Perjalanan dari Bandung sampai ke Kalimati masih saya tempuh dengan sandal gunung Eiger yang nyaman. Dari Kalimati jalurnya berubah menjadi pasir halus. Walaupun tidak punya sepatu gunung, sepatu olahraga Nevada pun akhirnya sukses mengantarkan saya ke Mahameru.Ini jalur paling sulit yang saya tempuh selama pendakian. Dua langkah naik, satu langkah turun. Pasir-pasir halus ini hampir membuat saya putus asa dan hampir menangis karena puncak tak kunjung ditemui. Rombongan kami pun terpencar, terakhir Luthfi yang berada di rombongan terakhir bersama saya, saya biarkan naik duluan karena saya merasa tidak enak hati menjadi penghambat mereka untuk menikmati sunrise di puncak gunung tertinggi di Jawa ini. Sedikit menyesal setelah itu karena ternyata naik sendiri itu sulit, lebih rentan dengan putus asa. Tapi tekad saya benar-benar diuji hari itu. Berbekal madu dan botol minum 300 ml saya berusaha untuk tetap ke atas. Banyak rekan-rekan pendaki lain yang juga masih struggling untuk mencapai puncak, melawan keputusasaan atas angkuhnya Mahameru. Di jalan saya bercengkrama dengan beberapa pendaki lain. Seolah senasib, akrab, saling menyemangati walaupun kami baru berkenalan. Inilah yang sukar saya temui di perjalanan pantai.
Langit mulai menjingga, pertanda ritual sunrise sudah dimulai, tapi saya masih di lereng, memandang kagum keindahan-Nya namun sedih karena belum juga menemui pertanda puncak. Akhirnya saya putuskan untuk beristirahat, mencoba mensyukuri empuknya pasir Mahameru. Setidaknya, pasir ini tidak hanya memberi kesempatan untuk putus asa, tapi juga tempat nyaman untuk berbaring.
Setelah semangat kembali terkumpul, perjalanan saya lanjutkan. Tekad saya sudah bulat, harus sampai puncak, jam berapa pun itu! Sudah jauh-jauh ke Semeru, akan jadi penyesalan seumur hidup tampaknya jika saya berhenti ketika puncak sudah di depan mata. Namun, sayangnya beberapa kawan ada yang menyerah, mencoba berdamai dengan bukit pasir nan angkuh ini.
Hampir mendekati jam 8 pagi, akhirnya tanjakan pasir sedikit demi sedikit menghilang berganti dengan bebatuan. Harapan! Saya akan segera sampai sepertinya. Dan benar adanya, kira-kira setengah jam kemudian saya akhirnya berhasil menggapai puncak tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru. Tekad bulat saya tidak sia-sia, mengalahkan lapar, lelah dan bisikan-bisikan untuk menyerah. Alhamdulillah, puas dan bahagia sekali rasanya. Sesampainya di sana saya disambut tepuk tangan dari rombongan dan pelukan dari Kaka, yang berhasil membuat saya menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar. Sekali lagi, alhamdulillah! That was one of the very epic moments in my life.
It was determination test, and We passed it. Mahameru, thank you!
11 orang: Kaka, Stepen, Luthfi, Kang Rihan, Army, Farhan, Monte, Luhung, Gumi, Abas, dan Sofyan.