Sunday, April 29, 2012

2958 mdpl

Sebelumnya aku pernah menyusur Tangkuban Perahu dan Bromo, tapi 22 Oktober 2011 lalu bisa saya katakan adalah kali pertama saya benar-benar mendaki gunung.

Subuh, saya dan seorang teman sudah tiba di terminal Leuwi Panjang - Bandung dimana kami akan bertemu dengan 2 teman untuk bersama-sama berangkat ke Cibodas, Cianjur dan bertemu 4 orang lainnya yang berangkat dari Jakarta disana. Akhirnya sekitar pukul 11 siang hari itu, 8 orang yang tergabung dalam satu tim memulai pendakian dari pos registrasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Melelahkan? Pasti. Apalagi untuk seorang pemula seperti saya. Jalan kaki untuk jarak tempuh paling panjang yang pernah saya lakukan. Belum lagi beban daypack berisi slepping bag, matras, pakaian dan perlengkapan lainnya. Tapi tidak untuk mengeluh. Malu! Teman yang lain bahkan harus memanggul tenda dan perlengkapan masak dan bahan makanan. Dibandingkan mereka, beban saya cukup ringan. Hanya saja diperjalanan ini tidak terhitung berapa kali saya harus berhenti untuk beristirahat atau sekedar menyandarkan beban tas di pohon atau bebatuan. Menyenangkan? Ya tentu saja. Diperjalanan kami menemukan air terjun, yang menurut saya biasa saja, dan jembatan air panas. Ini cukup berkesan, karena kami harus melewati batuan yang dialiri air panas dengan hanya berpegangan pada seutas tali sedang di sebelah kanan jalan terdapat jurang yang cukup terjal. Namun, bagi saya hal paling berkesan ada diakhir perjalanan.

Sore harinya, setelah kurang lebih 5 jam perjalanan kami memutuskan untuk beristirahat untuk sholat dan makan di sebuah tanah datar tidak terlalu jauh dari jembatan air panas. Nasi yang tidak begitu pulen bercampur laron kecil yang ikut termasak plus mie rebus instan jadi menu pengganjal perut 8 orang sore itu. Lucu kalau diingat lagi, terbayang makanan yang bisa dibilang tidak higienis itu, tapi saat digunung siapa peduli. Benar-benar seadanya dan secukupnya. Awalnya kami ingin melanjutkan perjalanan ke Kandang Batu, pos yang dituju dimana akan banyak pendaki lain yang juga bermalam. Namun, karena salah seorang teman sakit dan hujan mulai turun kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan mencoba untuk terlelap di sore hari ditemani hujan.

Saya dibangunkan perut yang lapar. Entah jam berapa saat itu. Begitupun dengan teman-teman saya satu tenda, semua seide: lapar. Tenda sebelah yang diisi cowok-cowok juga sudah meraung kelaparan. Akhirnya kami bertangkup ponco ditengah rintik hujan memasak nasi dengan lauk kornet. Beruntungnya salah satu teman membawa macaroni dan saus bolognese yang jadi masakan super istimewa di gunung malam itu.

Setelah sarapan dan membereskan tenda, esok paginya kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Berhenti sejenak di kandang batu untuk mengisi botol minum di sumber air. Ini kali pertama tenggorokan saya merasakan dingginnya air gunung. Awalnya sempat ragu, tapi saya tenggak juga toh di gunung kita tidak punya banyak pilihan. Walaupun rasanya sedikit berbeda dengan air minum kemasan, tapi tetap menghilangkan dahaga. Ditengah perjalanan kami kerap bertemu para pendaki yang sudah menyusur turun. Senang rasanya mereka memberi semangat untuk terus mendaki di sela-sela kelelahan kami. "Ayo, 40 menit lagi!" "Ayo, 20 menit lagi" " Sebentar lagi sampai, semangat ya!" Dukungan yang mereka sampaikan walaupun mungkin cuma basa-basi sesama pendaki cukup berarti buat saya. Seolah mereka ingin membagi apa yang sudah mereka rasakan lebih dahulu di puncak sana dan sebentar lagi saya akan merasakannya juga.

Tengah hari akhirnya kami sampai di puncak Gunung Gede, alhamdulillah! Benar-benar mengagumkan, saya berhasil menginjakkan kaki di 2958 mdpl dan kepuasan ini menghapus kelelahan! Pemandangan dari puncak benar-benar indah, seolah berada di negeri di awan saat menatap kabut di kejauhan. Euphoria pemula. 

Puas mengagumi keindahan ciptaan Tuhan, kami pun beranjak pulang. Menyusur kaki gunung dengan rute berbeda dari pendakian kemarin. Ditengah perjalanan pulang kami pun beristirahat sejenak untuk makan siang dan sholat. Lambung sudah mulai bergejolak. Maklum, saat itu sudah lewat tengah hari, namun perut kami isi sepantasnya. Di padang yang luas, bak savana, kami beristirahat, mengeluarkan perbekalan yang tersisa dan masak. Beras, sarden dan mie seadanya. Pun dimasak dengan air secukupnya, karena saat itu kami tidak menemukan sumber air yang layak. Di sana kami bertemu dengan pendaki yang baru akan menuju puncak. Perbekalan makanan mentah kami yang berlebih, kami berikan ke mereka. Simbiosis mutualisme, mereka mendapat bahan makanan, dan beban bawaan kami pun berkurang.

Kami yang kelelahan di surya kencana

Perjalanan turun kami lanjutkan ditemani hujan. Harus segera turun, karena matahari sudah mulai sembunyi. Kami bertemu dengan sekelompok orang yang juga akan turun. Jumlah mereka sekitar 30 orang. Kami dibiarkan jalan duluan, karena mereka harus jalan perlahan berhubung ada teman kelompok yang sakit. Gelap, di tengah hutan kami terus menyusur jalan. Entah sudah berapa jauh kami berjalan. Menurut saya perjalanan pulang lebih melelahkan, sepertinya karena sudah tidak ada tujuan yang diharapkan. Berbeda dengan pendakian dimana saya mendamba-dambakan pemandangan dari puncak gunung. Di jalan pun, saya harus bertukar sandal dengan Monic karena kakinya keseleo. Celakanya, sandal gunung Monic adalah sandal model jepit. Awalnya tidak berakibat apa-apa, tapi lama-kelamaan, saya yang terbiasa dengan sandal gunung sorong mulai merasa sakit di sela-sela jempol dan telujuk kaki, yang ternyata memang terluka karena gesekan sandal, lecet!

Perkiraan sampai kaki gunung jam 9 ternyata meleset jauh. Karena jalan yang gelap dan hanya bermodal senter, Nono yang kami anggap pemimpin jalan pun mulai ragu dengan jalan yang dia tunjukkan. Sekelompok orang yang tadi dibelakang kami sudah tidak terdengar langkahnya. Saya yang sudah sangat letih, begitu pun teman-teman yang lain, mulai kehilangan semangat. Nono yang ragu dengan jalur yang kami tempuh dan hujan lebat yang mengguyur kami, tambah melumpuhkan semangat saya. Saya takut salah jalan! Bayang-bayang keletihan yang tak berguna karena tak kunjung menemukan pos yang benar pun terus menghantui. Tapi disinilah saya belajar untuk mempercayai pemimpin, dan tidak ragu jika jadi seorang pemimpin. Karena saat itu saya benar-benar merasakan keputusasaan yang menurut saya paling parah selama saya hidup, yang akhirnya sirna setelah kami melihat lampu-lampu rumah penduduk dari kejauhan. Dan akhirnya keputusasaan itu benar-benar berakhir sekitar jam 11 malam setelah akhirnya kami menemukan rumah makan padang di kaki gunung. Perjalanan 2 x 2958 mdpl yang cukup berkesan.


*8 orang: Nono, Luthfi, Stepen, Arief, saya, Hicha, Chrisna dan Monic

No comments:

Post a Comment