Wednesday, May 30, 2012

Angkuhnya Tahta Mahameru

Setiap kali ada yang bertanya 'ngapain naik gunung?' saya hanya menjawab sekenanya 'jalan-jalan' 'iseng' atau apalah. Saya suka jalan-jalan; kota oke, desa oke, laut oke, lalu kenapa gunung tidak, pikir saya. Tidak ada yang spesial. Toh, mengunjungi tempat baru, pengalaman baru. Bukan sebenar-benar hobi seperti beberapa teman yang sudah sering menaklukkan tingginya gunung di Indonesia. Begitu pun perjalanan ke Semeru 17 Mei 2012 lalu. Ini kali kedua saya naik gunung. Awalnya saya tidak diajak ikut oleh teman karena alasan gender, track nya susah buat cewek katanya. Tapi akhirnya saya dan seorang teman perempuan dari FK Unpad, Kaka, masuk dalam daftar pendaki, walaupun malam hari sebelum keberangkatan saya sempat ragu karena ada masalah dengan perut saya, sepertinya masalah pencernaan. But, finally, Semeru!  Yang saya ingat hanya sedikit scene cerita dari novel Donny Dirgantara yang berjudul 5cm. Itu pun sudah remang. Tidak terbayang sulitnya pendakian yang akan saya tempuh hingga saya dihadapkan pada lereng gunung Mahameru.


Rabu sore itu, saya dan 11* orang teman lainnya janji berkumpul di stasiun kereta Bandung untuk berangkat ke Malang. Saat menunggu yang lain datang, orang tua saya menelpon. Memang saya belum meminta izin ke orang tua untuk pergi ke Semeru. Niatnya, bilang ke orang tua pada saat saya sudah sampai di Malang karena saya tidak akan mendapat izin pergi kalau meminta izin di awal. Kalau saya sudah sampai di Malang, there is no way back dan probabilitas untuk dizinkan naik menjadi 90% walaupun dengan berat hati, mungkin. Saat orang tua menelpon sore itu dan bertanya saya sedang dimana, saya jawab apa adanya bahwa saya sedang di stasiun, on my way to Semeru. Dengan berat hati pun orang tua mengizinkan karena saya 'menjual' teman-teman yang sudah sering mendaki gunung. Meski dengan embel-embel, 'setelah ini sudah ya, kalo memang suka yang begituan pulang ke Bengkulu saja, berkebun!'. Hahaha, that is truly different, daddy! Mungkin mereka sedikit sangsi karena sebelumnya seorang wakil menteri meninggal pada saat mendaki Rinjani. Alhamdulillah orang tua saya tidak tau kalau Semeru itu puncak tertinggi di pulau Jawa. Jadi, izin sukses! Saya pun juga baru tau kalau Semeru adalah puncak tertinggi di Jawa saat sampai di Malang, kebodohan manusia impulsif seperti saya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 16 jam, kami pun tiba di Malang jam 8 pagi. Singkat cerita, sampailah kami di Ranu Pane dengan jeep sewaan dari desa Tumpang. 

***

Setelah mendapatkan izin, petualangan menuju puncak Mahameru pun dimulai. Saat itu, sekitar jam 4 sore. Tujuan pertama adalah Ranu Kumbolo, daerah perkemahan di pinggir danau, dengan perkiraan waktu tempuh sekitar 6 jam. Awalnya perjalanan saya tempuh dengan semangat dan gembira. Namun, lama-kelamaan ketahanan fisik mulai menurun. Padahal rute yang ditempuh tidak securam rute pendakian Gunung Gede yang pernah saya lalui sebelumnya. Tapi saya enggan mengeluh, enggan dikasihani, toh yang lain juga tetap bertahan. Sebelum berangkat, memang latihan fisik saya kurang maksimal. Target yang disyaratkan oleh teman-teman cowok yaitu 6 keliling sabuga dibawah 12 menit, tidak tercapai. Untuk 14 menit saya hanya bisa lari 4 keliling track sabuga. Akhirnya, rasa lelah mulai menurunkan determinasi. Saya kembali bertanya 'ngapain naik gunung?' Liburan kok nyari susah. Sepertinya dari awal determinasi saya kurang memuncak, mulai dari keraguan saat sakit perut hingga gundah karena izin orang tua. Memang lelah bisa menimbulkan keraguan. Tapi perjalanan tetap berlanjut hingga kami akhirnya mencapai Ranu Kumbolo di malam harinya.

Rasanya sudah ingin langsung terlelap, rasa lelah mengalahkan perut yang lapar. Saya bisa hanya makan coklat, madu, atau snack apapun untuk mengisi perut. Tapi, ini tim yang isinya 12 orang. Egois tidak bisa dibenarkan. Akhirnya, setelah beristirahat sejenak, sebagian mendirikan tenda, sebagian lain memasak. Hari ini, banyak sekali pendaki lain yang juga mendirikan tenda di Ranu Kumbolo. Maklum, libur panjang Kenaikan Isa Almasih. Kami mendapatkan tempat di pinggir danau.


***
Paginya, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kalimati, saya dan Kaka menikmati pagi di pinggir danau, sayangnya kami tidak mendapati sunrise yang indah karena posisi tenda berada terpisah dengan tanjakan cinta. Untuk menikmati sunrise, pendaki sebaiknya mendirikan tenda  di camping ground dibalik danau yang menyatu dengan tanjakan cinta. Pagi itu adalah pengalaman baru buat saya untuk menjadi seorang survivor, buang hajat di alam. Hahaha. Seingat saya ini adalah kali pertama. Agak sulit menemukan tempat yang pas untuk buang hajat di Ranu Kumbolo karena daerah ini adalah savana terbuka yang dikelilingi bukit-bukit. Beberapa tempat yang agak tertutup pun dipenuhi oleh orang lain yang juga melakukan pencarian yang sama. 

Setelah sarapan, kira-kira jam 10 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju ke Kalimati.. Kira-kira 4 jam perjalanan kami tempuh melewati tanjakan cinta dan padang lavender bernama Oro-oro Ombo yang indah. Pemandangan ungu menghampar di tengah-tengah bukit hijau itu sangat indah sampai akhirnya kami dihadapkan pada hutan pinus yang akan mengantarkan kami ke tempat istirahat terakhir sebelum akhirnya melakukan perjalanan malam ke puncak Mahameru bernama Kalimati.  

***
Malam ini kami akan menempuh jarak horizontal kira-kira 3 kilometer untuk mencapai puncak Mahameru. Perjalanan dimulai jam 11.30 malam. Berjalan sambil bernyanyi riang gembira membuat perjalanan kami tidak begitu terasa lelah. Indahnya kebersamaan memang. Dengan satu jam perjalanan kami sudah sampai di Arcopodo dan kira-kira satu jam kemudian kami pun sudah sampai di batas vegetasi. Jalan setelah ini sempit dan macet, penuh antrian karena ramainya para pendaki saat ini hingga akhirnya setengah jam kemudian kami sampai pada lereng puncak Mahameru yang legendaris dengan track pasirnya. Disini saya baru mengerti alasan kenapa saya diminta untuk memakai sepatu. Perjalanan dari Bandung sampai ke Kalimati masih saya tempuh dengan sandal gunung Eiger yang nyaman. Dari Kalimati jalurnya berubah menjadi pasir halus. Walaupun tidak punya sepatu gunung, sepatu olahraga Nevada pun akhirnya sukses mengantarkan saya ke Mahameru.

Ini jalur paling sulit yang saya tempuh selama pendakian. Dua langkah naik, satu langkah turun. Pasir-pasir halus ini hampir membuat saya putus asa dan hampir menangis karena puncak tak kunjung ditemui. Rombongan kami pun terpencar, terakhir Luthfi yang berada di rombongan terakhir bersama saya, saya biarkan naik duluan karena saya merasa tidak enak hati menjadi penghambat mereka untuk menikmati sunrise di puncak gunung tertinggi di Jawa ini. Sedikit menyesal setelah itu karena ternyata naik sendiri itu sulit, lebih rentan dengan putus asa. Tapi tekad saya benar-benar diuji hari itu. Berbekal madu dan botol minum 300 ml saya berusaha untuk tetap ke atas. Banyak rekan-rekan pendaki lain yang juga masih struggling untuk mencapai puncak, melawan keputusasaan atas angkuhnya Mahameru. Di jalan saya bercengkrama dengan beberapa pendaki lain. Seolah senasib, akrab, saling menyemangati walaupun kami baru berkenalan. Inilah yang sukar saya temui di perjalanan pantai.


Langit mulai menjingga, pertanda ritual sunrise sudah dimulai, tapi saya masih di lereng, memandang kagum keindahan-Nya namun sedih karena belum juga menemui pertanda puncak. Akhirnya saya putuskan untuk beristirahat, mencoba mensyukuri empuknya pasir Mahameru. Setidaknya, pasir ini tidak hanya memberi kesempatan untuk putus asa, tapi juga tempat nyaman untuk berbaring.


Setelah semangat kembali terkumpul, perjalanan saya lanjutkan. Tekad saya sudah bulat, harus sampai puncak, jam berapa pun itu! Sudah jauh-jauh ke Semeru, akan jadi penyesalan seumur hidup tampaknya jika saya berhenti ketika puncak sudah di depan mata. Namun, sayangnya beberapa kawan ada yang menyerah, mencoba berdamai dengan bukit pasir nan angkuh ini.


Hampir mendekati jam 8 pagi, akhirnya tanjakan pasir sedikit demi sedikit menghilang berganti dengan bebatuan. Harapan! Saya akan segera sampai sepertinya. Dan benar adanya, kira-kira setengah jam kemudian saya akhirnya berhasil menggapai puncak tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru. Tekad bulat saya tidak sia-sia, mengalahkan lapar, lelah dan bisikan-bisikan untuk menyerah. Alhamdulillah, puas dan bahagia sekali rasanya. Sesampainya di sana saya disambut tepuk tangan dari rombongan dan pelukan dari Kaka, yang berhasil membuat saya menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar. Sekali lagi, alhamdulillah! That was one of the very epic moments in my life.



It was determination test, and We passed it. Mahameru, thank you!



11 orang: Kaka, Stepen, Luthfi, Kang Rihan, Army, Farhan, Monte, Luhung, Gumi, Abas, dan Sofyan.

Sunday, April 29, 2012

2958 mdpl

Sebelumnya aku pernah menyusur Tangkuban Perahu dan Bromo, tapi 22 Oktober 2011 lalu bisa saya katakan adalah kali pertama saya benar-benar mendaki gunung.

Subuh, saya dan seorang teman sudah tiba di terminal Leuwi Panjang - Bandung dimana kami akan bertemu dengan 2 teman untuk bersama-sama berangkat ke Cibodas, Cianjur dan bertemu 4 orang lainnya yang berangkat dari Jakarta disana. Akhirnya sekitar pukul 11 siang hari itu, 8 orang yang tergabung dalam satu tim memulai pendakian dari pos registrasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Melelahkan? Pasti. Apalagi untuk seorang pemula seperti saya. Jalan kaki untuk jarak tempuh paling panjang yang pernah saya lakukan. Belum lagi beban daypack berisi slepping bag, matras, pakaian dan perlengkapan lainnya. Tapi tidak untuk mengeluh. Malu! Teman yang lain bahkan harus memanggul tenda dan perlengkapan masak dan bahan makanan. Dibandingkan mereka, beban saya cukup ringan. Hanya saja diperjalanan ini tidak terhitung berapa kali saya harus berhenti untuk beristirahat atau sekedar menyandarkan beban tas di pohon atau bebatuan. Menyenangkan? Ya tentu saja. Diperjalanan kami menemukan air terjun, yang menurut saya biasa saja, dan jembatan air panas. Ini cukup berkesan, karena kami harus melewati batuan yang dialiri air panas dengan hanya berpegangan pada seutas tali sedang di sebelah kanan jalan terdapat jurang yang cukup terjal. Namun, bagi saya hal paling berkesan ada diakhir perjalanan.

Sore harinya, setelah kurang lebih 5 jam perjalanan kami memutuskan untuk beristirahat untuk sholat dan makan di sebuah tanah datar tidak terlalu jauh dari jembatan air panas. Nasi yang tidak begitu pulen bercampur laron kecil yang ikut termasak plus mie rebus instan jadi menu pengganjal perut 8 orang sore itu. Lucu kalau diingat lagi, terbayang makanan yang bisa dibilang tidak higienis itu, tapi saat digunung siapa peduli. Benar-benar seadanya dan secukupnya. Awalnya kami ingin melanjutkan perjalanan ke Kandang Batu, pos yang dituju dimana akan banyak pendaki lain yang juga bermalam. Namun, karena salah seorang teman sakit dan hujan mulai turun kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan mencoba untuk terlelap di sore hari ditemani hujan.

Saya dibangunkan perut yang lapar. Entah jam berapa saat itu. Begitupun dengan teman-teman saya satu tenda, semua seide: lapar. Tenda sebelah yang diisi cowok-cowok juga sudah meraung kelaparan. Akhirnya kami bertangkup ponco ditengah rintik hujan memasak nasi dengan lauk kornet. Beruntungnya salah satu teman membawa macaroni dan saus bolognese yang jadi masakan super istimewa di gunung malam itu.

Setelah sarapan dan membereskan tenda, esok paginya kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Berhenti sejenak di kandang batu untuk mengisi botol minum di sumber air. Ini kali pertama tenggorokan saya merasakan dingginnya air gunung. Awalnya sempat ragu, tapi saya tenggak juga toh di gunung kita tidak punya banyak pilihan. Walaupun rasanya sedikit berbeda dengan air minum kemasan, tapi tetap menghilangkan dahaga. Ditengah perjalanan kami kerap bertemu para pendaki yang sudah menyusur turun. Senang rasanya mereka memberi semangat untuk terus mendaki di sela-sela kelelahan kami. "Ayo, 40 menit lagi!" "Ayo, 20 menit lagi" " Sebentar lagi sampai, semangat ya!" Dukungan yang mereka sampaikan walaupun mungkin cuma basa-basi sesama pendaki cukup berarti buat saya. Seolah mereka ingin membagi apa yang sudah mereka rasakan lebih dahulu di puncak sana dan sebentar lagi saya akan merasakannya juga.

Tengah hari akhirnya kami sampai di puncak Gunung Gede, alhamdulillah! Benar-benar mengagumkan, saya berhasil menginjakkan kaki di 2958 mdpl dan kepuasan ini menghapus kelelahan! Pemandangan dari puncak benar-benar indah, seolah berada di negeri di awan saat menatap kabut di kejauhan. Euphoria pemula. 

Puas mengagumi keindahan ciptaan Tuhan, kami pun beranjak pulang. Menyusur kaki gunung dengan rute berbeda dari pendakian kemarin. Ditengah perjalanan pulang kami pun beristirahat sejenak untuk makan siang dan sholat. Lambung sudah mulai bergejolak. Maklum, saat itu sudah lewat tengah hari, namun perut kami isi sepantasnya. Di padang yang luas, bak savana, kami beristirahat, mengeluarkan perbekalan yang tersisa dan masak. Beras, sarden dan mie seadanya. Pun dimasak dengan air secukupnya, karena saat itu kami tidak menemukan sumber air yang layak. Di sana kami bertemu dengan pendaki yang baru akan menuju puncak. Perbekalan makanan mentah kami yang berlebih, kami berikan ke mereka. Simbiosis mutualisme, mereka mendapat bahan makanan, dan beban bawaan kami pun berkurang.

Kami yang kelelahan di surya kencana

Perjalanan turun kami lanjutkan ditemani hujan. Harus segera turun, karena matahari sudah mulai sembunyi. Kami bertemu dengan sekelompok orang yang juga akan turun. Jumlah mereka sekitar 30 orang. Kami dibiarkan jalan duluan, karena mereka harus jalan perlahan berhubung ada teman kelompok yang sakit. Gelap, di tengah hutan kami terus menyusur jalan. Entah sudah berapa jauh kami berjalan. Menurut saya perjalanan pulang lebih melelahkan, sepertinya karena sudah tidak ada tujuan yang diharapkan. Berbeda dengan pendakian dimana saya mendamba-dambakan pemandangan dari puncak gunung. Di jalan pun, saya harus bertukar sandal dengan Monic karena kakinya keseleo. Celakanya, sandal gunung Monic adalah sandal model jepit. Awalnya tidak berakibat apa-apa, tapi lama-kelamaan, saya yang terbiasa dengan sandal gunung sorong mulai merasa sakit di sela-sela jempol dan telujuk kaki, yang ternyata memang terluka karena gesekan sandal, lecet!

Perkiraan sampai kaki gunung jam 9 ternyata meleset jauh. Karena jalan yang gelap dan hanya bermodal senter, Nono yang kami anggap pemimpin jalan pun mulai ragu dengan jalan yang dia tunjukkan. Sekelompok orang yang tadi dibelakang kami sudah tidak terdengar langkahnya. Saya yang sudah sangat letih, begitu pun teman-teman yang lain, mulai kehilangan semangat. Nono yang ragu dengan jalur yang kami tempuh dan hujan lebat yang mengguyur kami, tambah melumpuhkan semangat saya. Saya takut salah jalan! Bayang-bayang keletihan yang tak berguna karena tak kunjung menemukan pos yang benar pun terus menghantui. Tapi disinilah saya belajar untuk mempercayai pemimpin, dan tidak ragu jika jadi seorang pemimpin. Karena saat itu saya benar-benar merasakan keputusasaan yang menurut saya paling parah selama saya hidup, yang akhirnya sirna setelah kami melihat lampu-lampu rumah penduduk dari kejauhan. Dan akhirnya keputusasaan itu benar-benar berakhir sekitar jam 11 malam setelah akhirnya kami menemukan rumah makan padang di kaki gunung. Perjalanan 2 x 2958 mdpl yang cukup berkesan.


*8 orang: Nono, Luthfi, Stepen, Arief, saya, Hicha, Chrisna dan Monic