Tuesday, April 30, 2019

Merbabu, 6 Tahun Kemudian

Okay, saya memang 'anget-anget taik ayam'. Hari ini sudah dua bulan lebih sejak unggahan terakhir. Bukan karena sibuk, tapi memang malas. Sepertinya saya punya masalah konsistensi, antusiasme di awal sulit dijaga supaya terus berkelanjutan. Tidak hanya tentang blog, tapi juga hal lainnya. Kerap kali semangat menggebu dengan hal-hal baru, namun kemudian loyo karena hambatan muncul di tengah jalan. Ah, lemah kamu, ling! Mungkin beberapa dari pembaca (kalo ada yang baca) juga punya masalah yang sama. Tapi ya.. seperti kali ini, ayo kita sama-sama mencoba lagi, lagi dan lagi. 

Mumpung belum berganti bulan, saya ingin menuliskan tentang April tahun ini, tentang perjalanan yang menutup episode pertama di 2019 sebelum memasuki bulan puasa.

***
Selain bulan rilisnya season final Game of Throne, April tahun ini juga jadi masa perebutan kekuasaan di Indonesia antara dua kubu calon presiden, Jokowi dan Prabowo. Tidak, saya tidak akan membahas tentang kericuhan pemilu. Yang akan saya ceritakan adalah berkah pesta demokrasi Indonesia yang berdampak langsung terhadap status saya sebagai buruh korporat, hari kejepit. Pemilu yang jatuh pada hari Rabu dan libur Paskah pada hari Jumat menghadirkan libur panjang di pertengahan bulan. Dengan cuti di hari Kamis, saya bisa menikmati libur selama lima hari. Hal mewah untuk para pekerja 5/7 seperti saya.

Awalnya saya berencana diving di Menjangan, Bali. Lima hari agaknya cukup untuk menikmati laut di bulan April, saat musim penghujan sudah usai. Tapi ternyata sesekali hujan masih juga deras. Di sisi lain, aturan baru tarif batas bawah membuat tiket pesawat semakin mahal.  Hal-hal ini menguatkan keputusan saya untuk menunda diving. Padahal sih, alasan utamanya sederhana, lagi kere, hahaha. Kalau dihitung-hitung tidak kurang dari Rp. 5.000.000 akan saya habiskan untuk sekali perjalanan diving. Bukan jumlah yang sedikit, apalagi saat saya sedang ada kebutuhan finansial lainnya yang lebih mendesak. Sudahlah, liburan ke Bali akhirnya saya urungkan.

Janggal rasanya saat libur panjang menetap di Bandung. Di kantor pun, rekan-rekan lainnya cukup paham dengan tabiat saya yang biasa memanfaatkan 'hari kejepit' dengan optimal untuk menginjakkan kaki di luar kota kembang. Pikir saya, saya tetap harus traveling mengusir kepenatan dari rutinitas, dengan budget yang lebih murahAkhirnya, saya bergabung dalam pendakian Merbabu bersama teman-teman #onemonthonetrip.

Kami berduabelas berangkat hari Kamis malam menuju Gancik mengakomodir teman-teman yang tidak cuti setelah pemilu. Saya sih tetap cuti sembari recovery  dari batuk yang menyiksa. Mungkin ini juga salah satu hikmah kegagalan diving trip. Saya terserang batuk berat seminggu sebelumnya. Entah seperti apa rasanya batuk-batuk di dalam laut dengan nitrogen yang bikin tenggorokan kering. Memang, orang Indonesia selalu melihat 'untung' dibalik kejadian. Hahaha.. Bisa jadi bentuk syukur atau kita hanya mencoba berdamai dengan kemalangan. 

***
Enam tahun silam, tepatnya Agustus 2013 merupakan kali pertama saya ke Merbabu. Bersama teman-teman Galang, Galau Petualang (I know it is lame, you can smirk), kami mendaki Merbabu via Wekas. Setau saya ada enam jalur pendakian untuk mencapai puncak Merbabu. Wekas adalah jalur yang yang cukup menantang. Kami harus melintasi jalan berbatu dan melipir tebing terjal. Lima belas orang akhirnya berhasil menggapai atap Jawa Tengah. Samar-samar saya masih mengingat harunya perayaan hari kemerdekaan di puncak puncak gunung. Sedikit kisah kami terekam dalam momen-momen yang diabadikan di video ini. 


Dari Galang untuk HUT RI ke 68


Berbeda dengan pendakian pertama saya, kali ini kami akan menyusur jalur Gancik untuk menuju puncak Merbabu. Dari diskusi singkat sebelum berangkat, kami sepakat membatasi pendakian hari ini hingga jam 5 sore dan mendirikan camp di camping ground terdekat. Target kami adalah Sabana 1, tapi jika memang kaki bisa melangkah lebih cepat, kami akan bermalam di Sabana 2. Saya sendiri lebih senang mendaki saat hari masing terang karena sedikit tidak nyaman dengan gelap. Kami memulai pendakian siang hari karena terlambat tiba di basecamp, sekalian para lelaki menyempatkan sholat Jumat terlebih dahulu. Untuk mempersingkat perjalanan, kami naik ojek hingga ke Pos 1. Gila, walaupun jalannya sudah dibeton, tapi terjalnya tanjakan dan sempitnya jalur ojek membuat saya awas. Ditambah beban tas keril di punggung, perjalanan dengan ojek rasanya ngeri-ngeri sedap. 

Alhamdulillah selama perjalanan tidak turun hujan. Kami sampai Sabana 1 pukul 5 lebih sekian. Saya tidak begitu ingat pastinya. Beberapa dari kami mulai mendirikan tenda. Penuh sekali camping ground ini. Info dari penduduk lokal mungkin ada 2000 orang  mendaki di hari yang sama. Untuk menampung 12 orang, kami harus mendirikan 4 tenda. Mencoba menyusup di tengah keramaian pendaki mencari tempat seadanya. 

Dua kali mendaki gunung yang sama, tentu saya menbanding-bandingkan kondisi keduanya. Rasanya dulu tidak lebih dari 20 tenda di satu camping ground. Tapi kini jumlahnya ratusan. Saking ramainya, saya bahkan tidak menemui teman lain rombongan yang ternyata mendirikan tenda di pos yang sama dan sampai pada waktu yang nyaris bersamaan pula. Saya hanya melihat lautan manusia. 

Enam tahun berlalu agaknya minat pendakian semakin tinggi, belum lagi masa libur panjang yang ikut mengaminkan keadaan ini. Semakin banyak teman pendaki memang, tapi concern saya, selain macet di jalur pendakian, akan semakin sulit mencari lokasi tersembunyi untuk buang air, hahaha. Sekalinya nemu lokasi, banyak sampah tisu yang dibiarkan berserakan oleh si empunya hajat. Itu yang saya temui di pendakian Merbabu kali ini. Jorok! Entah mereka minim pengetahuan atau memang tidak peduli dengan kotoran pribadi yang mencemari alam. 

Diantara perbedaan-perbedaan itu, Merbabu masih menyuguhkan pemandangan yang indah. Salah satunya mentari pagi yang mengintip dari balik lautan awan. Sunrise memang menjadi salah satu momen yang diburu para pendaki. Biru dan jingga pagi dari ketinggian rasa-rasanya berbeda dengan pemandangan jendela dari sudut kota. Mesti harus menyisip di antara kerumunan manusia untuk dapat memandangnya semburat warnanya dari sisi tebing, momen ini memang memanjakan mata saya yang masih berat menahan kantuk.

Kami menuju puncak Merbabu saat matahari terbit sempurna. Setelah sarapan seadaanya kami memulai pendakian. Tidak terlalu ambisius, perjalanan ini santai dan banyak waktu kami habiskan untuk mengabadikan momen kebersamaan di alam Merbabu yang hijau merekah. Indah banget. Buat saya, ini salah satu gunung terindah di pulau Jawa yang pernah saya daki. 

Mungkin sekitar jam 9 beberapa dari kami tiba di puncak Kenteng Songo. Sebagian dari rombongan sudah sampai duluan. Yang menarik dari puncak ini adalah mitos tentang jumlah kenteng yang bisa kita lihat. Katanya, jika orang yang melihat punya kekuatan ghaib, mereka bisa melihat 9 lubang seperti lubang lumbung. Dari sinilah nama Kenteng Songo berasal. Saya sendiri, dari dua kali pendakian, hanya melihat 4 kenteng, sama seperti kebanyakan pendaki lainnya. 

Puncak Merbabu, 6 tahun lalu

Satu yang berkesan dari puncak Merbabu pertama saya adalah bayangan gunung yang saya lihat dari puncak. Saya tiba di puncak saat posisi matahari tepat menyuguhkan bayangan indah dengan latar belakang biru yang menghampar luas. Saat pertama saya melihat yang seperti ini. Menarik, terus berkesan hingga sekarang. Kali ini, tidak ada bayangan yang serupa, saya tiba di jam yang berbeda. 


Tapi Merbabu tetap saja cantik, dulu maupun sekarang. Yang berbeda cuma jumlah penikmatnya saja.