Thursday, January 31, 2019

Memeluk Mimpi di Kota Paris (Part 1)

Mimpi itu muncul sepuluh tahun yang lalu saat saya dan beberapa teman satu jurusan berpartisipasi dalam sebuah kompetisi global bertajuk “Airbus Fly Your Ideas”. Kompetisi ini digadang Airbus guna memacu mahasiswa berinovasi, menggagas ide untuk masa depan dunia aviasi. Menariknya, lima tim terbaik nantinya akan mempresentasikan ide mereka di Paris Air Show, perhelatan dirgantara terbesar dan tertua di Eropa yang diadakan setiap dua tahun sekali. Iming-iming air show menjadi sangat menggiurkan bagi saya yang saat itu berstatus mahasiswa Teknik Penerbangan. Maka, 2009 adalah tahun dimana saya mulai memimpikan Paris.

Di tahun pertamanya, kompetisi ini diikuti 2350 mahasiswa baik S1, S2 dan S3 dari 82 negara di dunia. Bersaing dengan 225 proposal lainnya, tim Rajawali yang digawangi Stepen, Alus, Hicha, bang Hughes, dan saya, berhasil menjadi salah satu dari 86 tim yang dianggap layak untuk mengikuti seleksi tahap kedua. Setiap tim mendapat bimbingan langsung dari tenaga ahli Airbus untuk menjabarkan ide penelitiannya secara lebih mendetail. Dibabak ini, masing-masing tim harus membuat sebuah video untuk merepresentasikan gagasannya. 

Kala itu, kami mengusung penggunaan serat alami untuk menggantikan peredam suara sintetis. Idenya adalah pemanfaatan serabut kelapa sebagai bahan dasar penyusun material komposit panel kabin di pesawat udara. Serabut kelapa pada dasarnya memiliki potensi sebagai penyerap suara yang biodegradable dan di negeri ini jumlahnya melimpah, akan tetapi belum termanfaatkan secara maksimal. Menarik bukan? Namun sayangnya, angan kami untuk terbang ke Paris Air Show harus terhenti di babak ini. Video animasi yang kami buat, gagal mengantarkan tim rajawali ke lima besar. Sesaknya lagi, tim Coz dari University of Queensland, salah satu finalis yang kemudian menjadi jawaranya, mengusung ide serupa yakni penggunaan serat komposit dari pohon jarak, juga untuk material kabin pesawat.

Bayang Paris Air Show pun kian memudar. Sungkan rasanya berangkat sendiri ke sana mengingat jarak yang jauh dan biaya yang tidak sedikit. Dua kali air show ini terlewati, hingga akhirnya tahun 2014 lalu saya melanjutkan studi S2 ke Cranfield University, Inggris. Berada di benua yang sama, Inggris dan Prancis hanya berjarak 1,5 jam penerbangan dengan harga tiket yang lebih murah daripada pesawat saat saya mudik lebaran. Sangat dekat dan terjangkau. Keberangkatan saya tahun 2014 pun lalu seolah takdir yang memberi saya kesempatan untuk membubuhkan satu lagi tanda centang di daftar mimpi, mengingat waktu studi master di Inggris yang hanya satu tahun, sedang Paris Air Show ke-51 akan dilaksanakan di musim panas tahun 2015. Ada hikmahnya juga saya gagal berangkat studi di tahun 2013. 

Dua bulan sebelumnya saya mulai merencanakan perjalanan impian ke utara kota Paris. Berharap momen ini bisa menjadi ajang reunian tim Rajawali, saya mengajak anggota tim lainnya untuk bersama-sama hadir di Le-Bourget bulan Juni nanti. Sayangnya, hanya Alus yang menyanggupi. Dia memang tengah menyelesaikan studi masternya di Delft, Belanda. Stepen dan Hicha sedang bekerja dan studi di Jepang, sedang bang Hughes masih terikat tugas negara di angkatan udara. Rencananya saya akan mengujungi Alus di Belanda, baru kemudian kami berangkat bersama menuju Prancis setelah sebelumnya bermain-main di Belgia. Tiga negara tersebut bertetangga, jadi saya pikir tidak ada salahnya ‘aji mumpung’ menjajal tiga negara di barat Eropa. 

Baik Belanda, Belgia maupun Prancis mengharuskan penduduk non Uni Eropa untuk memiliki visa Schengen sebagai perizinan memasuki wilayahnya. Sedangkan Inggris tidak termasuk satu dari 26 negara Schengen. Ini berarti sebagai pemegang visa pelajar Inggris, saya masih harus mengurus visa kunjungan sebagai tiket masuk ke Eropa daratan. Normalnya, proses aplikasi visa memakan waktu dua minggu, bisa lebih cepat jika sedang beruntung. Seperti umumnya visa wisata, Schengen juga perlu itinerary yang jelas, lengkap dengan moda transportasi dan akomodasi selama perjalanan.

Saya membeli tiket keberangkatan ke Belanda dan kepulangan dari Prancis seharga kurang dari £50 (sekitar Rp1.000.000) dengan menumpang pesawat Easy Jet, low cost carrier versi Eropa. Sedangkan untuk transportasi antar negara, saya memesan Megabus. Selain murah, bus ini juga menawarkan fitur pembatalan dan pengubahan jadwal keberangkatan dengan biaya administrasi hanya £1 (sekitar Rp20.000) saja. Beberapa Megabus juga dilengkapi akses internet gratis, tapi kecepatannya akan membuat penumpang menggerutu. Tampaknya embel-embel “free Wi-Fi” hanya gimmick pemasaran semata.

Sebagai pelengkap persyaratan visa, saya memesan hotel secara online dengan kebijakan “free cancellation”. Artinya, saya bisa membatalkan pemesanan dalam jangka waktu tertentu tanpa dibebankan biaya. Sebenarnya banyak hotel backpacker atau bed and breakfast (BnB) yang menawarkan tempat menginap murah kisaran £15 (sekitar Rp300.000) per orang, per malam. Tapi, menumpang di tempat tinggal teman adalah opsi yang menarik dan tentu saja lebih murah. Alhasil, hotel pun hanya dipesan untuk persyaratan visa saja dan akan dibatalkan setelah visa disetujui. Penny-wise idea, isn’t? 

Tahu bahwa saya berencana singgah di Belgia untuk skydiving, Ollie memutuskan ikut bergabung di perjalanan ini beberapa minggu sebelum keberangkatan. Saat itu, dia pun tengah melanjutkan pendidikan di Southampton. Setelah sebelumnya kami pernah road trip ke Scotland bersama, bagi saya, Ollie adalah teman backpacker yang seru, kadang impulsif dengan tingkat kewarasan yang agak kurang dari takaran seharusnya. 
***

Perjalanan ini bermula di Belanda. Dan penerbangan kami ke Eindhoven dijadwalkan dari bandara Stansted di pinggir kota London. Saya dan Ollie sudah berada di ibu kota sehari sebelum keberangkatan untuk mengejar pesawat di pagi buta. Maklumlah, tiket murah terkadang harus dikompensasi dengan jadwal penerbangan yang tidak bersahabat. Kurang dari dua jam penerbangan, kami sudah berpindah negara. Dari Inggris ke Belanda. Berbeda dengan Inggris yang berangin, di Belanda kami disambut hangat matahari, dan Alus! Eindhoven menjadi saksi reuni dua teman kuliah sarjana yang bertemu kembali di lain benua.


Bersama Alus dan Ollie
14 Juni 2015, kami sudah menginjakkan kaki di Belanda. Sedangkan Paris Air Show sendiri akan berlangsung selama seminggu mulai tanggal 15 hingga 21 Juni. Tujuan utama dari air show ini sebenarnya adalah untuk mendemonstrasikan pesawat militer dan sipil kepada potential customer. Harapannya, kontrak-kontrak penjualan akan disepakati selama kegiatan berlangsung. Karena inilah, Paris Air Show hanya dibuka untuk umum selama tiga hari terakhir. Saya memilih hari Jumat, 19 Juni sebagai hari bersejarah, berharap pengunjungnya tidak akan seramai hari libur di akhir pekan. Ini berarti kami punya waktu beberapa hari untuk melenggang di Belanda dan Belgia. Empat hari kami menjajal negeri kinci angin. Sisanya kami habiskan di negara asal tokoh kartun Tintin, Belgia. Sampai akhirnya tanggal 19 yang dinanti pun tiba. Dini hari kami bertiga bertolak dari Brussel menempuh lima jam perjalanan dengan bus menuju Paris.
***

Tiba di Paris-Gare de Lyon jam 6 pagi, kami bergegas mencari transportasi yang bisa mengantarkan kami ke dormitory Tsania. Selama di Paris kami akan menginap di sana. Tsania adalah teman Ollie semasa kuliah sarjana yang saat itu sedang melanjutkan pendidikan di salah satu kampus perminyakan bergengsi di Paris, IFP School. 

Ada beberapa pilihan transportasi publik di Paris selain taksi, yaitu Metro, RER (Reseau Express Regional), dan bus. Metro adalah subway atau tube yang umumnya berada di bawah tanah dan hanya beroperasi di pusat kota Paris. Sedangkan RER adalah kereta commuter yang lebih cepat daripada Metro dengan jangkauan yang lebih luas. Sistem transportasi di region parisienne dibagi menjadi lima zona. Zona 1 adalah wilayah ibu kota, zona 2 adalah area lebih luar yang mengelilingi zona 1, zona 3 adalah area lebih luar yang mengelilingi zona 3, dan seterusnya. Sebenarnya, tiket bisa dibeli per perjalanan, namun jika kita akan berkeliling Paris, akan lebih hemat membeli travel pass yang mencakup setidaknya zona 1-3. Travel pass bisa digunakan dalam zona tersebut untuk semua jenis transportasi publik dalam jangka waktu tertentu; 1, 2, 3 atau 5 hari berturut-turut. Tiket harian ini berlaku mulai 05.30 dihari pembelian hingga 05.30 esok harinya walau umumnya transportasi publik hanya beroperasi hingga pukul satu dini hari. 

Lama berkutat dengan petugas informasi dan mesin tiket, kami akhirnya bisa menemukan cara untuk menuju area Rueil-Malmaison yang berada di zona 3. Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan dengan RER dan berganti bus, kami pun sampai di dormitory Tsania. Alus akan menumpang di kamar teman laki-laki Tsania yang juga berada di bangunan yang sama. Kami punya waktu sekitar dua jam untuk beristirahat dan bersiap sebelum berangkat menuju Le-Bourget menyambangi Paris Air Show. 
***
Kami sampai di gerbang bandara Le-Bourget menumpang shuttle bus gratis yang disediakan panitia dari stasiun RER terdekat menuju lokasi air show. Tidak sedikit ternyata yang datang hari ini. Berbekal tiket yang didapatkan secara online, kami mengantri dikeramaian. Tiket masuk per hari bisa dibeli seharga €14 (sekitar Rp210.000), dan mahasiswa dengan umur dibawah 27 tahun bisa mendapatkan tiket gratis dengan mengunggah kartu identitasnya. 

My dream comes true! Saya akhirnya menginjakkan kaki di Le-Bourget bersama kerumunan manusia yang juga ingin menyaksikan Paris Air Show, tapi dengan rasa yang berbeda. Rasanya seperti sampai di puncak gunung yang sudah saya daki sejak kemarin pagi. Bahagia dan bangga. Mungkin bagi orang lain hal ini biasa saja, tapi tidak buat saya. Ini spesial, karena impian beberapa tahun silam akhirnya terwujud di hari itu, 19 Juni 2015. Sejenak saya biarkan diri menikmati momen bersejarah ini. 
***

Saya menghampiri panitia di depan pintu masuk yang membagikan brosur informasi berisikan denah dan schedule acara. Denah ini adalah alat bantu utama bagi para pengujung untuk menemukan lokasi dari booth dan static displays yang ingin dilihat di area yang luasnya lebih dari 120.000 m2 ini. Brosur tersebut juga menghighlight waktu pertujukan dari beberapa wahana udara setiap harinya sehingga kita bisa bersiap-siap menuju lokasi yang tepat untuk menyaksikan air show yang kita inginkan. Di tahun 2015 ada lebih dari 2000 exhibitor dari 48 negara. Didalamnya termasuk 130 jenis pesawat udara baik static displays maupun flying displays. Dari tiga puluh flyby hari ini, sedikitnya ada enam pertujukan udara yang ingin saya saksikan. Jadwal terbang mereka pun saya tandai agar momennya tidak terlewatkan. 

Pertama E-Fan, pesawat besutan Airbus yang menggunakan dua motor elektrik sebagai penggerak. Dilengkapi sebuah baterai lithium, pesawat ini bisa terbang selama satu jam. Walaupun saat ini masih berupa prototipe dengan dua kursi, E-Fan adalah langkah awal untuk pengembangan pesawat penumpang bertenaga elektrik di masa depan. Menyaksikan E-Fan di udara menegaskan bahwa pesawat dengan mesin tanpa residu CO2 tidak mustahil untuk diwujudkan.

Kedua A380, pesawat penumpang terbesar di dunia buatan Airbus dengan panjang sekitar 72 m. Sebagai perbandingan, lapangan sepak bola panjangnya adalah 90 m. Pesawat dua tingkat ini bisa memuat lebih dari enam ratus penumpang. Saya terkagum-kagum melihat pesawat ini meliuk di udara, berbelok ekstrim dengan badan raksasanya, tentu saja tanpa penumpang di dalamnya. 

Ketiga Dassault Rafale, salah satu jet tempur yang hadir hari ini. Kenapa harus Rafale? Sederhana. Karena nama ini yang paling familiar di antara deretan nama pesawat tempur yang ada dalam brosur informasi. Rafale sendiri dalam Bahasa Prancis berarti hembusan angin. Tentu saja yang sangat kencang. Menyaksikan demonstasi jet tempur selalu luar biasa buat saya karena mereka terbang dengan kecepatan tinggi melebihi kecepatan suara. Suatu hal yang tidak setiap hari saya saksikan, apalagi ketika mereka terbang rendah. Suara dan kecepatannya menakjubkan. Ingin rasanya duduk di kursi tandem pesawat tempur agar bisa ikut merasakan keseruan pilot ketika mereka menari-nari di udara. 

Keempat Patrouille de France (PAF) Alpha Jet, tim aerobatik dari French Air Force yang menunggagi pesawat Dassault ‘Aplha Jet’. Ini adalah pertunjukan paling menarik untuk disaksikan karena demonstasi udara tidak hanya dilakukan oleh satu atau dua pesawat, tapi delapan sekaligus. Pesawat-pesawat ini meliuk-liuk membentuk beberapa formasi sambil mengeluarkan asap berwarna putih, biru, dan merah kombinasi bendera Prancis. Pertunjukkan A380 dan Rafale sebelumnya menerima banyak sorakan ‘ahhh’ dan ‘oooh’ dari penonton, tapi tepukan paling meriah tetap jatuh pada PAF Alpha Jet. Tim aerobatik memang selalu menjadi jawara setiap air show.

Kelima A400M, pesawat transportasi militer dengan empat mesin turbo-propeller yang menjadi referensi utama untuk desain pesawat dalam tugas kelompok saya di Cranfield. Menyaksikan pesawat ini terbang serasa melihat ke masa depan kiranya pesawat yang kami desain nantinya akan bisa mengudara. Walaupun hanya proyek akademik, tentu impian dari setiap aircraft designer adalah menyaksikan pesawat rancangannya melenggang di angkasa.

Keenam Yakolev Yak-3, pesawat tempur baling-baling buatan Uni Soviet yang diklaim memiliki performa lebih baik dibandingkan ‘Spitfire’ buatan Inggris. Sepertinya akan sangat menarik menyaksikan dua pesawat baling-baling yang dulunya digunakan dalam pertempuran di World War II dalam satu panggung udara. Sayangnya, ‘Spitfire’ tidak ada dalam daftar pertunjukan kali ini. 

Pertujukkan udara dimulai tengah hari dan masing-masing pesawat diberikan waktu sekitar sepuluh menit untuk unjuk kemampuan kecuali PAF Alpha Jet yang diberikan waktu lima menit lebih lama. Sembari menunggu jadwal terbang pesawat, saya berkeliling area pameran. Tidak hanya pesawat utuh, tapi mesin, roda pendarat dan perangkat avionik juga dipamerkan di sini. Ada simulator yang bisa dicoba oleh pengunjung publik, tapi ada pula area terbatas yang hanya bisa didekati oleh undangan saja. Salah satunya area Airbus E-Fan. Sangat disayangkan saya tidak berkesempatan melihat lebih dekat dan bertanya mengenai detail pesawat ini. Padahal E-Fan menjadi salah satu referensi dalam tesis master saya yang juga mengangkat tema pesawat elektrik, namun masih dikombinasikan dengan mesin berbahan bakar avtur. Satu lagi yang menarik dari static displays kali ini adalah roket setinggi lima puluh meter, Ariane 5. Roket ini digunakan untuk mengirimkan muatan ke orbit bumi tertentu. Kemegahannya pun mengusik saya untuk berfoto sebagai salah salah satu bukti bahwa saya pernah menatapnya dekat di Paris Air Show. 

Seharian kami habiskan di Le-Bourget. Bagi saya dan Alus yang memang menekuni dunia dirgantara, hari ini sangat menyenangkan. Tapi saya rasa Ollie juga tidak menyesali pengalaman barunya dengan atraksi beberapa pesawat udara yang mempesona. 


--to be continued

Thursday, January 24, 2019

Diving Pertama, Begitu Menggoda

Akhir-akhir ini di Instagram sedang ramai #10YearsChallenge. Netizen diajak untuk mengunggah foto masing-masing dari 10 tahun yang lalu. Mungkin sebagai bahan perbandingan untuk melihat perubahan dan pencapaian dibandingkan dengan 10 tahun silam, atau bisa jadi hanya untuk nostagia.  Berencana ikut serta dalam trend ini, koleksi foto-foto lama pun saya ulik kembali. Saya lihat lagi galeri foto yang tersimpan di laptop, Instagram, Facebook, sampai akhirnya saya temukan sebuah foto ini dalam posting-an di blog terdahulu, foto pertama saya di bawah laut.  

Finding Nemo
Sayangnya foto ini tidak memenuhi kriteria karena baru berusia 9 tahun, tepatnya diambil di bulan Februari 2010. Tapi foto ini mengingatkan saya akan kejadian konyol 9 tahun lalu. 

Waktu itu, saya dan beberapa teman kuliah berpartisipasi dalam konferensi RC-MeAe di Sanur, Bali. Selama dua hari, saya terlibat di kegiatan ini. Tidak hanya sebagai panitia, tapi saya juga berkesempatan untuk mempresentasikan poster tugas akhir saya dalam konferensi tersebut. Untuk sebagian kami, termasuk saya, ini adalah kali pertama menyambangi Bali. Dua hari tentunya kurang untuk bisa menikmati keindahan Pulau Dewata. Apalagi, kami lebih banyak disibukkan dengan kegiatan di konferensi. Akhirnya, saya dan 8* orang teman memutuskan untuk extend liburan di Bali.

Seolah didukung oleh alam semesta, banyak  keberuntungan yang kami alami di liburan kali ini. Terutama penghematan di pengeluraan. Maklumlah, untuk anak kuliahan yang saat itu belum punya penghasilan tetap, budget jalan-jalan harus diminimalisir. Keberuntungan ini diawali dengan tiket pesawat murah yang kami dapatkan untuk kepulangan ke Bandung. Berkat kemurahan hati salah satu dosen saya, Pak Raka, kami pun mendapatkan tempat tinggal selama di Bali dengan cuma-cuma. Memang saat itu saya sedang membantu penelitian mba Dewi, anak Pak Raka yang sedang menyelesaikan studi doktoralnya. Mengetahui saya akan extend beberapa hari di Bali, Pak Raka menawarkan rumahnya di daerah Gianyar. Tidak hanya rumah, kami pun dipinjami mobil berikut supirnya. Beruntung!

Pagi hari setelah check out, kami menyempatkan diri untuk jalan-jalan di dalam kota sebelum menuju Gianyar, sembari menunggu jemputan supir Pak Raka. Barang-barang kami tinggal di concierge hotel agar lebih leluasa. Rute pagi ini kami serahkan ke supir teman bokapnya Stepen yang bersedia menjadi guide kami di kota Denpasar. Oleh Pak Supir kami diajak ke Tanjung Benoa menuju wahana watersport di daerah Badung, Kuta Selatan. Namun rupanya harga wahana permainan di sana cukup mahal. Paraceiling dihargai Rp. 150.000 sementara discovery diving Rp. 450.000, bahkan lebih mahal daripada tiket pesawat pulang yang kami beli. Uang insentif dari kepanitian tidak mencukupi untuk mencoba banyak wahana permainan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang dulu sambil berdiskusi. Perut kami memang sudah keroncongan, meronta minta diisi makanan.

Jauh-jauh main ke Bali, restoran yang dipilih tetap warung padang. Lebih terjamin rasanya, pikir kami. Di sana kami bertemu dengan Pak Agus, pembimbing Iqbal saat kerja praktek di PTDI. Obrolan makan siang dengan Pak Agus dan teman-temannya mengantarkan kami pada solusi untuk kantong mahasiswa kere yang pengen main di Tanjung Benoa. Pak Agus ternyata punya teman yang mengelola wahana watersport di sana dan kami bisa dapat harga spesial. Diantarkan Pak Agus, kami kembali ke Tanjung Benoa. Masalah tawar menawar harga kami serahkan sepenuhnya ke beliau. Alhasil, dengan Rp. 300.000 kami bisa merasakan diving dan parasailing. Setengah dari harga sebelumnya. Alhamdulillah, lagi-lagi beruntung. 

Bodohnya saya tidak mempersiapkan pakaian ganti. Barang-barang saya tinggal di hotel. Awalnya memang hanya ingin sekedar jalan-jalan di sekitar Bali tanpa basah-basahan. Tapi rencana berubah karena takdir membawa kami ke Tanjung Benoa yang murah. Sialnya, di sana tidak tersedia diving suit berlengan panjang untuk saya yang berhijab. Saat itu saya hanya mengenakan kaos oblong dengan jaket. It's my favorite style that time, t-shirt with zipped hoodie, bahkan untuk Bali yang panas sekalipun.

Untuk memuaskan rasa penasaran, tekad saya bulat ingin mencoba diving pertama kalinya hingga akhirnya saya diving dengan hoodie berbalut diving suit, seperti foto di atas. Kalau diingat lagi, ini bodoh dan aneh memang. Bahkan sang instruktur divingnya pun menertawakan kekonyolan saya. "Baru kali ini saya lihat ada yang diving pakai jaket", katanya. Lihat, jaket abu favorit saya menyembul dari dalam diving suit lengan pendek yang saya pakai. Sampai kinipun  jaketnya masih tersimpan rapi dalam lemari. Sebagai pengingat salah satu kekonyolan yang pernah saya alami.

Well, it was unplanned. Tapi inilah yang mengantarkan saya ke pengalaman diving berikutnya. Terima kasih Tanjung Benoa. And now, I already hold advanced certification for scuba diving. Perkenalan pertama yang begitu menggoda ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bawah laut Indonesia lainnya. Ya, yang pertama biasanya selalu berkesan, tapi yang kedua, ketiga dan selanjutnya bisa jadi lebih indah.


8 orang: Stepen, Iqbal, Luthfi, Soleh, Hafiz, Sakti, Anu dan Ridlo